Pernah merasa tidak percaya diri dengan sederet prestasi yang sudah kamu raih? Atau bahkan selalu saja merasa kurang atau merasa selalu aja ada yang salah dengan prestasi yang sudah kamu capai? Bisa jadi, kamu mengalami impostor syndrome yang bisa dialami oleh orang-orang yang memiliki sederet prestasi atau kesuksesan di sekolah, di kampus, maupun ketika sudah bekerja.

Impostor syndrome oleh psikolog Clane dan Imes (Collier,2018) dapat dijelaskan sebagai keadaan dimana seseorang merasa menjadi seorang “penipu” dengan segala prestasi yang telah diraihnya dan biasanya dialami oleh perempuan yang memiilki kesuksesan dalam pendidikan maupun karir. Jadi kesuksesan yang dia raih misalnya seperti, mendapatkan beasiswa, dapat berkuliah di universitas terfavorit, menjadi mahasiswa unggulan, dan sederet prestasi lainnya, hanya “tipuan semata” yang dia lakukan atau kesalahan dari pihak instansi yang telah memberikannya penghargaan (Weinschenk,2016). Kita punya 5 tips untuk mengatasi sindrom ini:

Menerima keadaan karena kamu tidak sendirian

Kamu tidak sendirian menghadapi sindrom ini. Ternyata cukup banyak orang yang mengalaminya dan dialami oleh siswa sekolah sampai selebriti yang memenangkan piala Nobel. Salah satu penyebab mengalami impostor syndrome yaitu karena rendahnya harga diri. Jadi sebesar apapun kesuksesan yang sudah dicapai malah membuatmu seperti membodohi orang-orang dengan kesuksesanmu yang kamu anggap menjadi sebuah kesalahan atau hanya sebuah keberuntungan yang datang padamu.

Mencari penyebabnya

Kenapa merasa rendah diri ketika prestasi itu telah kamu raih dengan hasil jerih payahmu? Berarti kamu harus mencari penyebabnya kenapa kamu tidak percaya diri dengan kesuksesanmu. Tidak hanya memikirkannya  secara dangkal tapi perlu menggali lebih dalam lagi misalnya seperti pengalaman masa kecil yang membuatmu menjadi tidak percaya diri, dan lainnya. Beberapa penyebab telah ditemukan oleh peneliti-peneliti impostor syndrome yaitu: menerima tantangan baru yang dapat memicu keraguan dalam diri, adanya kompetisi dalam anggota keluarga semasa kecil, atau sejak kecil diberi julukan “anak yang pintar.”

Mengingatkan diri pada prestasimu

Tulis semua prestasi yang sudah kamu raih di sebuah jurnal atau diari. Prestasi yang telah kamu tulis dapat menjadi pengingatmu bahwa segala hal yang sudah kamu raih adalah hasil jerih payahmu, bukan hanya imajinasi ataupun kesalahan. Lalu, tulis juga penjelasan setiap prestasi yang telah kamu raih dengan lebih rinci seperti apa saja usahamu dalam meraih itu dan berapa lama telah kamu berusaha. Jadi apa yang sudah kamu raih menjadi hal yang benar-benar nyata yang telah kamu alami, bukan keberuntungan semata. Kamu bisa lebih percaya diri ketika kamu meyakini apa yang telah kamu raih adalah jerih payahmu sendiri.

Terima apa adanya dirimu

Jangan sering-sering meragukan kemampuan diri. Tidak ada manusia yang sempurna. Buatlah diri merasa nyaman dengan apa adanya dirimu maka kamu akan menerima segala kemampuan yang kamu miliki. Akhirnya tidak melulu kamu menyalahkan dirimu sendiri dengan apa sudah kamu capai. Karena kamu percaya dari dan yakin dengan kemampuaan diri. Prestasi yang sudah kamu capai memang karena kemampuan yang kamu punya dan usahamu selama ini.

Ubah perspektif dari pikiran negatif

Kata-kata seperti, “kok aku ngrasa prestasiku cuma kebetulan aja terjadi” atau “aku gak mungkin dapet penghargaan ini, pasti ada yang salah.” Pertama yang terpenting adalah kamu harus menyadarinya jika kamu mengalami impostor syndrome dengan melihat ciri-ciri orang yang mengalami sindrom ini. Kemudian, cobalah untuk mengontrol pikiran yang meragukan kemampuan dirimu atau pikiran negatif yang tidak menerima pada prestasi yang kamu dapatkan. Pikirkan kembali melalui perspektif yang lebih positif dalam memandang prestasimu.

Penulis: Ristia Angesti

Sumber:

Nichols, H. (2018). How to overcome impostor syndrome, Ditemu kembali https://www.medicalnewstoday.com/articles/321415.php?utm_source=

Weinschenck, S. (2016). The Impostor Syndrome, Ditemu kembali https://www.psychologytoday.com/intl/blog/brain-wise/201605/the-impostor-syndrome.html

Send this to a friend

Desainwebku