Where is the love? Masihkah ada kebaikan tersisa di dunia ini? Mungkin pertanyaan inilah yang muncul dalam pikiran kita setiap kali berita seputar terorisme atau tindak kriminal lainnya. Salah satu berita menyedihkan belum lama ini datang dari Jepang. Seorang pria bernama Takahiro Shiraishi telah ditangkap oleh polisi terkait ditemukannya sembilan korban pembunuhan yang ia mutilasi. Pembunuhan ini dilakukan oleh pelaku dalam kurun waktu dua bulan. Beberapa dari kita rasanya memiliki pandangan atau label sendiri tentang serial killer atau pembunuh pada umumnya. Dr. Elizabeth Yardley, selaku Director of the Centre for Applied Criminology at Birmingham Cuty University (Woollaston, 2015) menyebutkan lima karakteristik dari serial killer.

Pertama, mereka haus akan kontrol atau berada dalam posisi yang lebih kuat. Hal ini tergambarkan dari bagaimana pelaku seringkali dengan sengaja menahan informasi penting terkait tindak kriminalnya. Serial killer juga digambarkan sebagai individu yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk ‘memamerkan’ tindakan mereka. Terkait dengan hal tersebut, serial killer juga tampil sebagai seorang yang karismatik, yang kemudian mereka gunakan sebagai umpan untuk menarik korbannya. Ironisnya, seringkali para serial killer tidak terlihat sebagai orang yang berbahaya, misalnya seorang yang aktif melayani lingkungan. Cukup mengerikan ya ternyata, teman-teman?

Namun, sebenarnya, terkadang para pelaku merupakan pribadi yang membutuhkan bantuan. Pernahkah kamu mendengar sebuah istilah yang mengatakan bahwa manusia merupakan produk dari masa lalu? James Garbarino, seorang psikolog yang telah mewawancarai berbagai pelaku pembunuhan mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, para pelaku merupakan seorang manusia yang mengalami trauma atau memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan (Weller, 2015). Beliau juga mengatakan bahwa terdapat kemungkinan bagi pelaku untuk berubah menjadi individu yang lebih baik. Beliau berhasil memberikan seorang remaja yang melakukan sejumlah pembunuhan berencana, sebuah kesempatan.

Oleh karena hal ini, remaja tersebut kembali bersekolah setelah beberapa tahun, berprestasi selama ia berada dalam kemiliteran, menikah, dan memiliki sebuah keluarga. Tidak. Hal ini tidak semata-mata menjustifikasi tindakan yang mereka lakukan. Setiap kasus tentu memiliki dinamikanya sendiri tetapi rasanya temuan ini tentu menawarkan perspektif baru dalam memandang para pelaku. Apakah mata harus selalu dibalas dengan mata? Mungkinkah terkadang konsekuensi tidak bersifat sepenuhnya ‘menyakiti’ atau ‘menghukum’, melainkan sebaliknya, memberi kesempatan baru? Caramu memandang, sepenuhnya pilihanmu.

Content Writer: Nathania Vrischika | Content Editor & Ideation: Olphi Disya Arinda

Source:

Weller, C. (2015, 19 Juni). 5 surprising lessons a psychologist learned from interviewing killers. Business Insider. Ditemu kembali dari http://www.businessinsider.com/psychological-evaluations-of-killers-reveal-5-surprising-lessons-2015-6/?IR=T.

Woollaston, V. (2015, 21 Juli). How to spot a serial killer: Criminologists reveal five key traits the most notorious murderers have in common. Ditemu kembali dari http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3169359/How-spot-serial-killer-Criminologists-reveal-five-key-traits-common-notorious-murderers.html.

Send this to a friend