Pernahkah Sobat Sehat merasa senang ketika temanmu sedih karena mendapat nilai tugas yang jelek? Atau pernahkah kamu merasa sangat bahagia ketika mantan pacarmu ternyata diselingkuhi oleh pasangannya yang sekarang? Atau ketika rekan kerjamu mendapat musibah karena ditipu oleh kliennya sendiri? Mungkin itu yang disebut dengan schadenfreude?

Apa itu Schadenfreude?

Ternyata, tidak sedikit yang merasa seperti itu, Sobat. Menurut Mina Cikara, seorang asisten profesor psikologi di Universitas Harvard, merasa senang diatas penderitaan orang lain adalah pengalaman yang manusiawi. Hal ini dikenal dengan istilah Schadenfreude. Ketika seseorang melihat orang lain kesusahan, secara tidak sadar ia sedang membanding-bandingkan dirinya dan merasa lebih baik dari orang tersebut. Bahkan penelitian yang dilakukan tahun 2014 mengungkapkan bahwa anak usia 2 tahun sudah bisa merasakan schadenfreude sebagai respon atas kondisi tidak adil yang melibatkan orang-orang disekitarnya.

Kenapa seseorang bisa melakukan demikian?

Penelitian menyebutkan bahwa rendahnya harga diri atau merasa inferior menjadi salah satu faktor yang mendukung terbentuknya schadenfreude. Studi yang dilakukan pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa individu dengan harga diri yang rendah lebih sering mengalami hal ini ketika berhadapan dengan orang yang berprestasi mengalami kegagalan. Hal ini dikarenakan keadaan tersebut membuat suasana hati pelaku menjadi lebih baik. Selain itu, perasaan iri juga berperan dalam terbentuknya schadenfreude ini.

Schadenfreude dan depresi

Sementara itu, studi pada tahun 2015 menyebutkan bahwa orang yang sering schadenfreude memiliki hubungan dengan depresi. Kesuksesan atau kebahagiaan orang lain bisa dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Dampaknya, seseorang yang mengalami schadenfreude bisa memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang lain. Pelaku juga bisa mengisolasi diri secara sosial dan hal ini memperburuk tingkat depresi yang dialami.

Nah, jika Sobat Sehat sering merasa schadenfreude, mulailah mengevaluasi diri dan lekas cari tahu penyebabnya. Cobalah mengganti sudut pandangmu terhadap hal-hal positif yang ada pada orang lain dan singkirkan perasaan burukmu. Ingat, setiap manusia selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan yang telah Tuhan ciptakan. Ubah persepsimu dengan melihat bahwa orang tersebut bukanlah sainganmu tetapi seseorang yang bisa memotivasi dirimu menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan begitu, lambat laun perasaan simpati terhadap orang lain akan muncul.

 

Penulis: Fathin Nibras

Sumber Colino, S. (2017). The roots of schadenfreude: Why we take pleasure in other people’s pain. Ditemu kembali: https://health.usnews.com/wellness/mind/articles/2017-03-01/the-roots-of-schadenfreude-why-we-take-pleasure-in-other-peoples-pain

Send this to a friend

Desainwebku