Beberapa waktu terakhir, kembali beredar video berbau pornografi yang sempat viral. Mirisnya, video itu tersebar disertai dengan cibiran yang ditunjukan pada sang prempuan yang dalam kasus ini sebagai korban. Penyebaran video seperti ini merupakan salah satu tindak kejahatan cyber atau biasa disebut sebagai revenge porn.

Revenge porn merupakan istilah penyebaran video ataupun gambar berkonteks seksual yang disebarkan tanpa adanya persetujuan melalui media apapun. Dalam kasusu ini, media online menjadi peringkat pertama dalam penyebarannya. Biasanya, revenge porn terjadi pada pasangan yang baru mengalami putus cinta dan korban paling besar dipihak perempuan. Walaupun baik laki-laki ataupun perempuan sama-sama memiliki resiko mengalami kejadian ini.

Lalu mengapa ada orang yang tega menyebarkan foto atau video orang yang dia kasihi ke publik? Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Afroditi Pina dari forensic psychology Kent University, melihat bahwa orang-orang yang kemungkinan telibat dalam revenge porn bertujuan untuk balas dendam dan menunjukan kurangnya empati serta perilaku impulsif.

Penelitian ini juga menemukan hubungan positif antara revenge porn dengan “Dark Triad” karakteristik psikologis. “Dark Triad” ini merujuk pada tiga kepribadian yaitu Narsisme, Machiavellianisme, dan Psikopatik. Ketiga “Dark Traid” ini sama-sama  berhubungan bagaimana menempatkan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi, mereka masing-masing memiliki fokus yang berbeda.

Narsisisme percaya bahwa dirinya pantas dikagumi, perasaan kepentingan diri yang berlebihan, dan diperlakukan berbeda dari yang lain. Machiavellianisme mengacu pada sifat memanipulasi, menipu, dan mengeksploitasi orang lain untuk mencapai keuntungan pribadi. Seedangkan Psiopatik paling didefinisikan sebagai perilaku antisosial, gangguan empati dan rasa tidak bersalah, dingin dan tidak sensitif terhadap kebutuhan orang lain, dan sifat egis lainnya.

Penelitian ini juga mendapat hasil yang menarik. Dari 100 partisipan hanya sekitar 28.6% yang memiliki kecendrungan untuk melakukan revenge porn. Namun, yang  mengejutkan 99% partisipan mengungkapkan setuju pada peredaran pronografi secara online tanpa adanya persetujuan. Yang lebih mengejutkan lagi, 87% peserta menunjukkan kegembiraan atau menganggap hiburan dengan konsep balas dendam untuk memeras “mantan” ini.

Sayangnya, fakta menunjukan mayarakat umumnya menyalahkan para korban karena mengirim gambar tersebut kepada pelaku. Masyrakat kesulitan dalam menerima kesalahan korban, tapi secara tidak langsung memberikan ruang pembenaran bagi bagi pelaku.

“Hasilnya menunjukkan, bila komunitas online atau masyarakat tidak melihat penyebaran video atau foto tanpa izin itu sesuatu yang serius, semakin sulit bagi korban untuk maju dan melaporkan kasus ini. Serta sulit untuk menantang perilaku ini dan menghentikannya dari penyebaran yang luas.” Dr. Afroditi Pina

“Korban perlu merasa didukung dan dipercaya oleh komunitas online dan offline secara keseluruhan, jika kita ingin mengatasi masalah ini.” lanjutnya.

 

Content Writer: Aulia Fanny | Content Editor & Ideation: Olphi Disya Arinda

Source:

Pina, A., Holland J., James, M. (2017) The Malevolent Side of Revenge Porn Proclivity: Dark Personality Traits and Sexist Ideology.  International Journal of Technoethics, 8 (1)

Harley. (2015). Dikutip dari https://www.harleytherapy.co.uk/counselling/machiavellianism-psychology.htm tanggal 7 November 2017

Image: lifehacker.com.au

Send this to a friend