Poster Webinar SehatMental.id ‘Quarter Life Crisis: Love, Life & Mental Health’

Halo Sobat Sehat Mental? Apa kabar? Semoga Sobat sehat selalu ya! Sobat Sehat Mental ada yang ikut acara sehatmental.id kemarin Sabtu tanggal 27 Februari ngga nih?? Gimana? Seru dan bermanfaat banget kan pastinya?? Buat Sobat Sehat Mental yang belum tahu, sehatmental.id menyelenggarakan webinar talkshow bertajuk ‘Quarter Life Crisis: Love, Life & Mental Health.’ Dalam kesempatan kali ini, sehatmental.id ngobrol bareng Tata Hadiwijoyo, drg. Allia dan dr. Santi untuk mengupas tuntas tentang Quarter Life Crisis.

Sobat Sehat Mental, pernah ngga sih rasanya bingung sama arah kehidupan?? Rasanya bingung menentukan arah tujuan hidup. Sedangkan usia semakin bertambah. Kalo Sobat Sehat Mental merasakan hal tersebut, kemungkinan besar Sobat sedang ada di fase Quarter Life Crisis. Nah, sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan Quarter Life Crisis? Menurut penjelasan dr. Santi, Quarter Life Crisis ini adalah suatu masa atau fase dimana Sobat akan merasa khawatir, bimbang, gelisah, dan bingung untuk melangkah dan menghadapi masa depan. Bahkan dalam beberapa waktu mungkin Sobat tanpa sadar kerap membandingkan pencapaian teman dengan pencapaian diri sendiri. Penyebab QLC sendiri bisa datang dari beberapa faktor nih Sobat Sehat Mental. Bisa pekerjaan dan finansial, karir dan masa depan, bahkan hubungan romantis dengan pasangan. Kalo Sobat Sehat Mental sedang ada di fase QLC, jangan merasa kecil diri ya Sobat! Tenang aja, kita semua pernah ada di titik itu kok dan kamu tidak sendiri.

Saat berada dalam fase QLC, Sobat Sehat Mental harus tetap mencintai diri sendiri ya! Jangan sering membandingkan prestasi teman dengan prestasi kamu sendiri ya Sobat! Semua akan ada waktunya kok. Selain itu jangan lupa untuk tetap bersosialisasi dengan lingkungan yang suportif ya Sobat Sehat Mental!

Pasti Sobat Sehat Mental bertanya-tanya kan, apakah QLC ini hanya dialami oleh mereka yang tinggal di perkotaan saja yang kesehariannya seolah dituntut untuk bekerja cepat, atau juga terjadi di pedesaan? Jawabannya, QLC ini terjadi ke semua orang, terlepas dari tempat tinggalnya. Sebab QLC adalah sebuah fase pendewasaan yang mau tidak mau harus kita lewati. Permasalahan demi permasalahan kerap kali menguji kesabaran kita. 

Jadi, mungkinkah kita lepas dari QLC yang menghantui? Kapan? Sebenarnya tidak ada suatu takaran akan usia berapa kita akan terlepas dari QLC. Namun, yang perlu Sobat Sehat Mental ketahui QLC adalah perasaan tidak nyaman, tidak yakin akan kemampuan diri sendiri. Sehingga, apabila Sobat sudah merasa nyaman dan mampu tegak berdiri di atas kaki sendiri, maka kemungkinan besar di saat itulah Sobat sudah berhasil melewati fase QLC. 

Tapiiii, bukan berarti masalah akan selesai ketika Sobat sudah berhasil melewati fase ini yaa. Sebab sejatinya masalah akan terus berdatangan tidak peduli usia kita berapa. Ada satu perkataan yang disampaikan kak Tata yang cukup membekas nih Sobat Sehat Mental, yaitu bahwa hidup adalah pembuktian ke diri sendiri, bukan untuk orang lain. Jangan menjadikan orang lain sebagai patokan hidup kamu ya Sobat! Kalo kamu menggantungkan hidup kamu sebagai pembuktian terhadap orang lain, maka saat lingkungan tidak merespon kamu dengan baik, takutnya malah kamu semakin down dan kecewa. Make the best out of you for yourself. Dengan cara itu, Sobat Sehat Mental bisa berkarya secara lebih maksimal tanpa harus melihat bagaimana pandangan orang lain terhadap diri kamu. Terkadang yang membuat kita tertekan adalah adanya ekspektasi tertentu yang ingin kita pamerkan ke orang lain kan Sobat. Hal seperti ini yang bisa membuat kita semakin tertekan dan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Jadi, perlahan-lahan mulai ubah pemikiran ya Sobat Sehat Mental.Nah, sekarang Sobat Sehat Mental sudah paham kan apa yang dimaksud dengan Quarter Life Crisis? Masalah akan silih berganti mendatangi dan kita harus selalu bersiap menghadapinya. Namun, bukan berarti masalah yang ada justru ‘membunuh’ kita ya Sobat. Masalah yang ada justru harus dijadikan pelajaran agar kita bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. What doesn’t kill you makes you stronger.

Desainwebku