Tak terasa Piala Dunia 2018 sudah berakhir dan dimenangkan oleh Perancis atas Kroasia dengan skor akhir 4-2. Hampir semua orang ikut meramaikannya baik dengan menonton secara langsung, menonton bersama orang banyak (nobar), atau menonton bersama keluarga di rumah. Tak hanya bapak-bapak atau remaja laki-laki saja, anak gadis sampai ibu-ibu juga tak sedikit yang ikut menonton. Singkatnya, demam sepak bola mewabah pada siapapun di dunia. Dan jika diamati baik-baik, banyak loh perilaku orang saat demam sepak bola ini yang menarik dibahas dari sudut psikologi, seperti misalnya saja perilaku orang yang ikut hype padahal mereka biasanya tidak tertarik dengan bola.

Kenapa ya orang ikutan suka sepak bola saat Piala Dunia padahal biasanya mereka tidak tertarik dengan sepak bola?

Hal ini dapat dijelaskan dengan konsep identitas sosial, yaitu aspek kepribadian kita yang berhubungan dengan lingkungan sekitar kita. Manusia cenderungnya akan lebih baik kepada orang yang berasal dari kelompoknya, demikian sebaliknya. Nah selama Piala Dunia ini, identitas sosial kita sebagai bagian dari warga negara semakin terlihat saja. Mayoritas dari kita akan heboh dengan piala dunia, sehingga orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak tertarik sepak bola menjadi termotivasi untuk mengikutinya. Mungkin dengan begitu mereka merasa tidak terasing.

Kenapa ya orang-orang ikutan teriak-teriak selama pertandingan?

Kehadiran orang lain di sekitar kita membuat kita sadar atau tidak sadar menjadi berbaur dengan keramaian disekitar kita, apalagi jika kelompok kita menunjukkan suatu identitas tertentu. Misalnya saja memakai kostum sepak bola bersama. Kita akan cenderung bersikap sesuai dengan aturan/ tradisi kelompok, bukan aturan/ tradisi diri sendiri. Hal ini tidak selalu mengacu pada hal yang buruk, kok. Kita bisa lihat contohnya, yaitu Jepang yang bersama-sama memungut sampah usai pertandingan.

Kita suka mengkritik negara kita sendiri, tetapi kenapa kesal jika negara lain mengkritik ya?

Kita merespon kritikan bukan hanya berdasarkan isinya tetapi bergantung juga pada siapa yang menyampaikannya. Pada umumnya orang akan lebih toleran terhadap kritikan yang disampaikan oleh kelompoknya sendiri daripada luar kelompoknya. Hal itu disebabkan karena kelompok sendiri dianggap menyampaikannya dengan tujuan membangun, sedangkan kelompok lain dianggap punya tujuan menjatuhkan.

Mengapa kita merasa lebih senang kalau tim yang dianggap lebih lemah malahan menang?

Sering sekali tim yang dianggap lebih lemah memenangkan pertandingan sampai menjadi fokus di turnamen. Orang-orang biasanya berharap tim yang lebih lemah mengalahkan tim yang dianggap lebih kuat. Penjelasan yang memungkinkan tentang hal ini adalah bahwa jika kita melihat kesuksesan di situasi yang sulit, itu akan menginspirasi kita untuk percaya bahwa kita bisa berhasil untuk sesuatu yang sulit. Selain itu kerugian yang diperoleh lebih kecil karena memang ekspektasi yang dibebankan tidak sebesar pada tim yang kuat.

Apakah Piala Dunia selalu menyebabkan konflik antar negara?

Siapa bilang? Malahan sebenarnya Piala Dunia bisa meningkatkan hubungan antar negara jika mereka memang bergabung dalam kelompok yang sama, bukan memisah-misahkan diri. Jadi bukan ‘Fans German” atau “Fans Inggris” tetapi “Fans sepak bola”. Jadi meskipun Piala Dunia identik dengan persaingan, hal itu bisa menyatukan orang didunia atas dasar cinta terhadap sepak bola.

Wah, banyak ya perilaku menarik yang muncul saat euforia global seperti Piala Dunia. Dan semua perilaku tersebut dapat dijelaskan dengan ilmu psikologi. Karena sesuai dengan definisinya, psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan kenapa ya kita berperilaku demikian.

Penulis: Claudia Noviyanti

Sumber:

Stiff, Chris. 2018. Why Do People Suddenly ‘Get Into’ Football During World Cup? [internet] diambil dari: https://theconversation.com/why-do-people-suddenly-get-into-football-during-the-world-cup-98812 [diakses pada tanggal 9 Juli 2018]

Send this to a friend

Desainwebku