Beberapa waktu lalu Indonesia mengadakan pesta demokrasi melalui pemilihan umum (pemilu) kepala daerah. Tahun depan pun akan diadakan pesta demokrasi, yaitu pemilu legislatif dan presiden. Pastinya ada banyak aspek yang memengaruhi seseorang untuk memilih calon pemimpin. Diantaranya adalah afiliasi politik, nilai-nilai yang dianut oleh pasangan calon dan partai, tingkat pendidikan, agama, status ekonomi, dan banyak faktor pendukung lainnya. Sebenarnya ada satu faktor X yang memengaruhi seseorang untuk memilih dan bukan karena hanya ideologi politik.

Menurut John Krosnick, seorang professor ilmu politik di Standford University, pengambilan keputusan dalam memilih di ranah politik lebih banyak terjadi secara tidak sadar. Ada tiga tema yang secara signifikan memengaruhi bagaimana seseorang memilih calon pemimpin.

Rasa muak dan hal-hal negatif lainnya

Kampanye yang berbau negatif seperti saling menjatuhkan calon pasangan lain itu sebenarnya menyebalkan. Asosiasi yang negatif lebih mungkin membuat kita memilih suatu pasangan daripada positif. Otak seseorang pun cenderung mudah mengingat informasi negatif daripada informasi yang positif. Dampaknya, seseorang akan lebih mudah mengambil keputusan dengan keadaan emosi yang negatif.

Persepsi saat kampanye pemilu

Secara tidak sadar sebenarnya kita menilai seseorang dari tampilan luarnya dan tidak jarang hal ini menjadi sesuatu yang subjektif. Namun, dalam hal pemilihan umum, penampilan yang baik berperan cukup penting untuk menarik perhatian para calon pemilihnya. Lalu, tidak hanya terlihat baik dan bisa mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan, seseorang akan cenderung memilih kandidat berdasarkan kesamaan yang ada pada dirinya. Entah itu kesamaan ideologi, etnik, atau hal lainnya.

Menakut-nakuti calon pemilih

Salah satu cara untuk mendorong pemilih yang cenderung konservatif adalah menebar isu dengan bumbu ketakutan. Beberapa studi mengatakan bahwa secara psikologis ketakutan terbesar membuat para pemilih lebih berhati-hati dalam menentukan pilihannya. Mereka cenderung mencari kebenaran dan tidak mempercayai calon pemimpin yang mempunyai rekam jejak politik yang buruk.

Lalu pertanyaannya, apakah suara tiap orang sangat berarti bagi pemilihan? Bukankah selalu ada celah untuk curang dalam pemilihan kepala daerah dan oknum-oknum yang bermain di dalamnya? Meskipun faktor yang tidak disadari itu memengaruhi cara memilih seseorang, hal itu lebih berlaku bagi orang-orang yang ragu harus memilih kandidat yang tersedia. Ketika kamu ragu, carilah data-data valid dan mendukung tentang calon pemimpin agar kamu bisa lebih yakin terhadap pilihanmu di pemilu mendatang.

Penulis: Fathin Nibras

Sumber: Godrich, K. (2016). What makes us vote the way we vote? – The Psychology of Voting. Ditemu kembali dari:

https://www.brainscape.com/blog/2016/10/psychology-of-voting/

Send this to a friend

Desainwebku