Mungkin kita sudah mengetahui tentang penyakit epilepsi. Banyak yang mengira orang yang mengalami kejang-kejang adalah orang menderita epilepsi atau kadang di Indonesia lebih dikenal dengan penyakit ayan. Memang penderita epilepsi memiliki ciri-ciri utama yaitu munculnya kejang-kejang. Tapi, tidak semua orang yang kejang-kejang itu epilepsi. Yuk kita kenali pseudoseizure lebih lanjut.

Kejang-kejang tidak selalu epilepsi

Jadi, ada dua tipe kejang yaitu epilepsi dan non-epilepsi. Bedanya, epilepsi terjadi karena adanya gangguan listrik saraf didalam otak yang akhirnya membuat seseorang kehilangan kontrol pada tubuhnya. Otot-otot tubuh bergerak secara tiba-tiba, tidak terkontrol, dan kehilangan kesadarannya. Sedangkan, kejang non-epilepsi bukan berawal dari gangguan saraf tapi diawali adanya gangguan psikologis yang menyebabkan terjadinya gangguan di otak. Kejang non-epilepsi atau dapat disebut juga pseudoseizure / psychogenic non-epileptic seizure (PNES). Penderitanya sama-sama memiliki masalah dibagian otak namun gangguan listrik yang terjadi dalam otak berbeda dengan penderita epilepsi.

Pseudoseizure lebih banyak terjadi pada wanita yang mengalami stres berat, terutama pada orang yang mengalami perlakuan buruk pada masa anak-anak. Beberapa ahli menduga jika munculnya karena tekanan trauma pada beberapa masa sebelumnya. Biasanya mulai terlihat saat masa remaja akhir, tapi dapat pula muncul sejak masa anak-anak ataupun orang dewasa.

Beberapa Ciri Pseudoseizure

Beberapa ciri penderita pseudoseizure yaitu munculnya kejang secara tiba-tiba, kekakuan otot, kehilangan kesadaran, kebingungan, pandangan mata kosong, dan beberapa ciri lainnya. Berbeda dengan penderita epilepsi, saat seseorang mengalaminya bersamaan dengan masa terjadinya gangguan psikologis. Gangguan psikologis menjadi penyebab awal kemunculannya, seperti stress berat, gangguan kecemasan, gangguan panik, obsesif-kompulsif, trauma, gangguan emosi, dan lainnya. Tidak semua kehilangan kesadaran, beberapa orang masih menyadari lingkungan sekitarnya. Rentang waktu terjadinya gangguan itu juga lebih lama dibandingkan yang menderita epilepsi.

Dokter juga memiliki kesulitan dalam mendiagnosa seseorang yang mengalami pseudoseizure karena memiliki gejala yang hampir sama dengan epilepsi. Orang yang salah diagnosa bila diberikan obat epilepsi biasanya tidak akan memberikan pengaruh. Dokter akan menyarankan meraka untuk melakukan pemerikasaan lanjutan menggunakan alat electroencephalogram (EEG). Melalui EEG, maka akan terlihat masalah yang ada didalam otak.

Penyembuhan Pseudoseizure

Cara penyembuhan untuk penderita pseudoseizure berbeda-beda bergantung dengan gangguan psikologis yang dialami. Pendekatan dalam proses penyembuhannya lebih banyak menggunakan pendekatan psikologi dibandingkan penyembuhan melalui obat-obatan. Penyembuhan yang bisa dilakukan seperti konseling individual ataupun keluarga,  terapi kognitif, relaksasi, pemberian anti-depresan, dan lainnya.

Pseudoseizure memang tidak terhindarkan bagi beberapa orang yang mengalami gangguan psikologis. Tapi kita tetap dapat mengantisipasinya dengan menjaga kesejahteraan psikologis. Hal ini menjadi kunci utama agar tidak mengalaminya. Kita dapat membuat pola hidup yang sehat untuk menjaga kesejahteraan psikologis dan juga kesehatan tubuh.

Penulis: Ristia Angesti

Sumber:

Johnson, J. (2018). What is a pseudoseizure?, Ditemu kembali dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/322016.php

Send this to a friend

Desainwebku