Merasa ngga sih kalo kamu suka bingung sendiri kalo mau mengambil keputusan yang berat, antara mengikuti pikiran atau kata hati  kamu? Bagaimana ya solusinya?

Ternyata dalam proses mengambil keputusan, seseorang yang mengikuti pikiran sejalan dengan kata hati itu emang ngga bisa. Dua-duanya, pikiran dan emosi membuat kamu ngga bisa menentukan mana yang lebih penting karena keduanya juga penting. Nah loh.

Lalu bagaimana kalo kamu ingin meyakini kalo gebetan ini orang yang tepat buat kamu saat ini. Di satu sisi kita merasa dia cocok sama kamu, tapi di sisi lain malah kamu sedang ngga mau pacaran. Hmm sulit yah. Kalo kamu dihadapkan oleh pilihan rasional atau ngga rasional, emosi kita bisa berada di atas akal sehat kita. Kok bisa?

Pikiran Hanya Setengah dari Gambaran Utuh Seseorang.

Nah, kamu mungkin ngga yakin dengan apapun yang terkait dengan emosi, alasannya simpel. Ngga logis. Kamu jadi lebih percaya dengan pikiran kamu dibandingkan dengan perasan kamu. Padahal pikiran sendiri hanya setengah dari gambaran utuh seseorang. Saat kamu sudah tau dimana sekolah atau kampusnya, alamat rumahnya, sampai nenek kakeknya gebetan, kamu udah tau kualitas dia dari sudut pandang itu, tapi belum tentu kamu bisa merasa cocok dengan orang itu kan. Ini dia masalahnya.

Emosi Bertujuan untuk Mengevaluasi dan Merangkum

Untuk memutuskan sesuatu, seringkali emosi berperan banyak. Tujuannya emosi memang untuk mengevaluasi dan merangkum sesuatu yang pernah dialami agar kita bisa bertindak cepat di situasi itu. Emosi kamu yang mengatur cocok tidaknya dengan tujuan kamu di awal.

Jadi, Mana Ya yang Harus Kita Percaya? Pikiran atau Kata Hati?

Pikiran atau kata hati yang terdalam? Atau jangan-jangan keduanya?

Penelitian yang dilakukan oleh Mikels, Maglio, Reed, dan Kaplowitz (2011) membandingkan ketiga strategi ini. Hasilnya, untuk hal yang kompleks, berfokus pada perasaan daripada memikirkan detail menghasilkan kualitas keputusan yang lebih baik, dan overthinking dapat mengganggu penggunaan emosi untuk pengambilan keputusan.

David Brooks, jurnalis New York Times menyarankan cara menggunakan emosi untuk membuat keputusan yang kompleks dengan lempar koin. Kamu bisa coba melemparkan koin dan tidak mengikuti hasil koin yang dilemparkan, tapi sadari apa yang kamu rasakan saat melihat hasil lemparan koin. Apa perasanmu saat itu?

Silvan Tomkins pernah bilang, kalo emosi tanpa pikiran membutakan, sedangkan pikiran tanpa emosi melemahkan. Nah, pikiran memberikan penglihatan dalam gelapnya emosi dan emosi diberi kekuatan oleh pikiran. Betul?

Penulis: Hervi Utami

Sumber

Lamia, Mary C. (2018, Mar 29). Decision-making and Different Ways of Knowing. Ditemu kembali dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/intense-emotions-and-strong-feelings/201803/decision-making-and-different-ways-knowing

Send this to a friend

Desainwebku