Indonesia memiliki keindahan alam yang tidak terbatas. Tingginya gunung, luasnya lautan, hingga besarnya sumber daya alam yang terhampar dapat kita temui, namun di tengah-tengah keindahan itu, Indonesia tidak bisa terlepas dari intensitas bencana alam yang besar. Belum lama ini pada Mei 2018, kita mendengar banyak sekali terjadi longsor dan banjir di daerah Jawa Barat yang sampai merenggut nyawa satu keluarga. Pastinya ini membuat kita berduka. Dengan banyaknya siaga darurat bencana juga membuat kita harus selalu waspada. Bencana alam bisa selalu mengintai. Hal terpenting adalah siapkah kita menghadapi bencana alam yang sewaktu-waktu muncul tanpa sapa hangat ini?

Kenapa kita harus perhatian terhadap potensi bencana?

Hari Internasional untuk Mengurangi Bencana yang akan diadakan pada 13 Oktober ini akan berfokus pada isu untuk mengurangi jumlah orang yang terkena dampak bencana di tahun 2030. Pemerintah dan organisasi terkait diharapkan dapat bekerja sama dalam mempersiapkan dan merespon secara efektif saat terjadinya bencana. Penelitian di Hongkong dalam International Journal of Public Health mengidentifikasi hambatan-hambatan yang terjadi dalam mengevakuasi di kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Faktor psikologis bisa mempengaruhi seseorang untuk membuat keputusan pada keadaan seperti ini.

Perubahan iklim serta meningkatnya urbanisasi juga meningkatkan risiko besarnya dan kompleksitas bencana alam yang terjadi pada suatu kota. Evakuasi pada saat yang tepat dapat menyelamatkan banyak nyawa dengan tersedianya bantuan medis dan sosial. Namun banyak diantara orang yang mengalami bencana tidak mau meninggalkan rumahnya, mereka beralasan tidak tahu akan dibawa kemana mereka saat akan dievakuasi. Sebagian lainnya memiliki disabilitas atau adanya keterbatasan gerak yang menghambat untuk segera dievakuasi.

Apa peran psikologi dalam menghadapi bencana?

Siaga bencana yang diberitakan seringkali dianggap bisa dihadapi sesuai pengalaman dan keadaan kita. Saat mengetahui ancaman yang datang, kita bisa menerapkan strategi untuk mengurangi risiko kerusakan yang terjadi. Adanya rasa untuk bisa mengontrol kesulitan yang muncul atau self-efficacy, berperan penting dalam menentukan evakuasi. Faktor motivasi seperti menyadari bahaya, menghadapi resiko, dan tingkat kecemasan berinteraksi dengan rasa self- efficacy sebagai faktor utama dalam membuat keputusan.

Dalam studi ini, orang-orang yang memiliki self-efficacy lebih tinggi dilaporkan kurang mengalami hambatan saat dievakuasi. Berarti, kita dengan kemampuan menghadapi masalah yang kuat akan merasa lebih siap saat dievakuasi sehingga ketersediaan informasi yang tepat dan strategi menghadapi bencana hasilnya jadi lebih efektif. Perlu diingat, pada bencana besar yang kompleks, keberhasilan respons dan upaya penyelamatan bergantung juga pada tindakan yang strategis dan tepat dari dalam dan luar populasi yang terdampak. Kita juga tidak bisa melupakan peran pemerintah dan bantuan internasional saat bencana terjadi.   

Tetap waspada dengan update info bencana, tapi hati-hati…

Peringatan dini memang diperlukan, kebanyakan orang mengetahui bencana dari internet dan TV. Dengan adanya sosial media sekarang ini, kita bisa mendapat update tentang bencana secepat mungkin. Namun banyaknya informasi yang saling tumpang tindih bisa menimbulkan masalah baru. Kita jadi ngga tau lagi mana informasi yang paling dibutuhkan saat bencana semakin memburuk.  

Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Pemerintah perlu menjelaskan rute yang aman dilalui selama terjadinya bencana, waktu keberangkatan, alternatif bagi orang dengan ruang gerak terbatas, dan sosial media yang meng-update berita dari waktu ke waktu. Komunitas pemerintah atau non pemerintah dituntut aktif dalam program rawan bencana sehingga bila terjadi bencana akan segera merespon. Sekolah  juga perlu melatih siswanya mengenai strategi kesiapan menghadapi bencana.

Nah, sudah tau kan psikologi punya peran penting saat memutuskan evakuasi? Jadi kita udah bisa nih mengurangi risiko bencana dari hal terkecil dari diri kita sendiri. Yuk, tetap waspada!

Penulis: Hervi Utami

Referensi

https://theconversation.com/psychology-holds-key-to-getting-people-out-before-disaster-strikes-85611

Send this to a friend

Desainwebku