Saat kamu baru saja tiba di rumah, ibumu menyuruhmu untuk menyantap makanan yang sudah ia siapkan. Karena merasa tak tega, akhirnya kamu secara terpaksa menyantap makanan tersebut meski tak ada lagi ruang yang tersisa di perutmu.

Saat kamu sedang ingin beristirahat dengan tenang, tiba-tiba terdengar dering telepon. Di ujung sana temanmu memintamu untuk mendengarkan segala keluh kesah yang sedang ia rasakan. Karena merasa iba, akhirnya kamu terpaksa mendengarkannya meski lelah dan kantuk menyerang dirimu.

Saat kamu sedang ingin menikmati waktu sendirian, tiba-tiba temanmu mengajakmu untuk menemaninya jalan-jalan. Dan lagi-lagi, kamu tidak dapat menolak dan berkata tidak. Apakah kamu merupakan salah satu orang yang tidak asing dengan situasi-situasi tersebut? Jika ya, maka kamu harus berkenalan dengan istilah “asertif”.

Apa Itu Asertif?

Menurut kamus Oxford, pengertian dari asertif adalah “expressing opinions or desires strongly and with confidence, so that people take notice” atau mengekspresikan pendapat atau keinginan dengan kuat dan keyakinan, sehingga orang memperhatikan. Dengan kata lain, asertif memiliki arti “membela hak-hak pribadi, serta mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan dengan cara langsung, jujur, dan tepat tanpa mengabaikan pikiran, perasaan, serta kepercayaan orang lain”.

Melatih kemampuan berkomunikasi secara asertif dapat menciptakan gaya komunikasi yang lebih sehat. Selain itu, perilaku asertif juga dapat mendatangkan banyak manfaat lainnya, di antaranya adalah meningkatkan rasa kepercayaan diri, memahami dan mengenali apa yang kita rasakan, meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan, serta menciptakan hubungan yang penuh dengan kejujuran.

Asertif juga dianggap sebagai ‘titik keseimbangan’ antara perilaku pasif dan agresif. Untuk memahami istilah asertif lebih jauh, terlebih dahulu kita mengetahui definisi pasif dan agresif.

Pasif

Perilaku pasif adalah kegagalan untuk mengomunikasikan pikiran atau perasaan, dan mengakibatkan kita melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan dengan harapan bahwa kita dapat menyenangkan orang lain. Hal ini juga berarti bahwa kita memberikan kuasa kepada orang lain untuk bertanggung jawab, mengontrol dan membuat keputusan untuk kita. Kebanyakan orang berperilaku pasif dikarenakan mereka memiliki keinginan yang kuat untuk disukai oleh orang lain. Orang-orang semacam itu cenderung tidak menganggap diri mereka berharga, sehingga mereka lebih mementingkan hak, keinginan, serta perasaan orang lain.

Agresif

Perilaku agresif adalah kegagalan untuk mementingkan dan memikirkan pandangan atau perasaan orang lain. Mereka yang berperilaku agresif akan jarang menunjukkan pujian atau penghargaan terhadap orang lain. Beberapa contoh perilaku agresif adalah mengabaikan, tidak mempertimbangkan perasaan, serta menjatuhkan orang lain.

Bagaimana Cara untuk Meningkatkan Kemampuan Asertif?

Mengenal Diri Sendiri

Langkah pertama yang dibutuhkan untuk meningkatan kemampuan asertif adalah dengan mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri dapat membantu kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita perlukan dan inginkan, sebelum akhirnya kita dapat menyatakannya kepada orang lain. Selain itu, kita juga perlu bersikap jujur pada diri sendiri tentang apa yang benar-benar kita perlukan dan inginkan, serta menghargainya. Sebab bagaimana kita dapat bersikap jujur pada orang lain jika kita tidak dapat jujur pada diri kita sendiri?

Menyatakan Keinginan dan Kebutuhan dengan Percaya Diri

Setelah mengetahui apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, maka langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah menyatakannya dan memastikan bahwa keinginan dan kebutuhan kita terpenuhi. 

Membiasakan Diri untuk Berkata “Tidak”

Tidak apa untuk berkata “tidak” atau menolak hal-hal yang tidak sejalan dengan dengan apa yang menjadi tujuan serta keinginan kita. Juga ketahuilah bahwa kamu adalah manusia biasa yang punya batasan-batasan tertentu dan tidak selamanya mampu menyenangkan atau menuruti keinginan semua orang.

Jangan Menunggu Orang Lain untuk Mengerti Apa yang Kamu Inginkan

Adakah yang sering sekali menebar kode pada orang lain dan berharap mereka “peka” pada kode yang kamu berikan? Jika sang “target” tidak “peka”, akankah kamu menunggu selamanya? Ini saatnya kamu untuk berubah. Ambil langkah inisiatif dan mulailah mengutarakan apa yang kamu inginkan pada orang lain. Bersikap pasif atau agresif justru akan menjauhkan kamu dari apa yang benar-benar kamu inginkan dari orang lain.

Berbuat Salah adalah Hal yang Tak Apa

Memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan asertif. Kita harus mengingat bahwa kita hanyalah manusia yang tidak akan bisa sempurna. Tidak apa untuk melakukan kesalahan, tidak apa untuk meminta, dan tidak apa mengakui hal-hal yang tidak mampu kita lakukan.

Menggunakan Teknik Komunikasi Asertif

  • Menggunakan “I” Statement

Gunakan “Aku ingin”, “Aku perlu” atau “Aku merasa” untuk menyampaikan pernyataan dasar dan menyampaikan maksud kita dengan tegas. Selain itu, “I” statement dapat mencegah lawan bicara kita merasa tersinggung dengan apa yang kita coba sampaikan.

  • Empati

Untuk asertif, kita juga perlu memahami bagaimana cara lawan bicara kita memandang keadaan yang sedang terjadi serta apa yang kemungkinan sedang dirasakan oleh lawan bicara kita. Kita juga dapat menggunakan kalimat yang menunjukan empati kita terhadapnya sebelum mengutarakan keinginan kita. Contoh: “Aku mengerti bahwa kamu sedang memiliki masalah, akan tetapi……”

  • Pernyataan Berulang (The Broken Record)

Pernyataan berulang adalah menyatakan dengan berulang kali permasalahan yang sedang kita tegaskan. Contohnya adalah ketika kita berusaha menolak tawaran tertentu, kita harus memperlihatkan dengan tegas secara berulang-ulang apa yang telah menjadi keputusan kita, meskipun lawan bicara kita terus mendesak.

  • Faktual, Tidak Judgmental terhadap Hal-hal yang Tidak Kita Sukai

Untuk bisa bersikap asertif, kita juga perlu mempertimbangkan perasaan orang lain dengan tidak bersikap agresif atau dengan menggunakan kalimat-kalimat yang negatif. Contohnya sebagai berikut:

Agresif: “Mengapa sih kamu selalu terlambat!”

Asertif: “Seharusnya kita bertemu satu jam yang lalu”

Penulis: Dhingga Hererha
Editor: Elga Theresia

Sumber:

https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/assertiveness

https://www.mindtools.com/pages/article/Assertiveness.htm

https://www.skillsyouneed.com/ps/assertiveness.html

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/changepower/201209/the-assertiveness-habit

https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/assertive/art-20044644

Desainwebku