Kabar terjadinya pelecehan seksual yang dialami selebriti tanah air sedang mewarnai beberapa pekan terakhir. Kasus pelecehan yang baru saja terjadi, dialami oleh penyanyi Via Vallen melalui direct message Instagram berupa ajakan untuk datang ke kamar pelaku dan berpakaian seksi. Beberapa hari sebelumnya, kejadian serupa menimpa selebgram sekaligus youtuber Gita Savitri. Gita menerima pesan dari sebuah akun palsu yang isinya mencaci maki, saran untuk menjual diri, hingga ajakan berhubungan intim.

Sebagaimana diketahui, baik Via Vallen maupun Gita Savitri sempat mem-posting cuplikan direct message tak senonoh tersebut lewat instagram story. Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny membenarkan tindakan tersebut. Menurutnya, mengungkapkan hal tersebut ke publik dapat menjadi bagian dari sanksi sosial untuk menimbulkan efek jera kepada si pelaku.

Dari kejadian yang dialami oleh Via Vallen dan Gita Savitri, muncul suatu pertanyaan apa sebenarnya yang dipikirkan oleh pelaku? Mengapa mereka termotivasi untuk menyampaikan pesan-pesan yang tidak pantas tersebut? Dan apa yang membuat seseorang rentan untuk melakukan pelecehan terhadap orang lain?

Untuk dapat lebih memahaminya, berikut adalah 4 karakteristik umum yang dapat dimiliki oleh laki-laki yang menjadi pelaku pelecehan seksual :

The Dark Triad

Karakteristik yang pertama ini merupakan gabungan dari 3 sifat kepribadian, yaitu narsisme, psikopat, dan Machiavellianisme. Narsisme adalah pandangan pribadi mengenai kemampuan dirinya yang berlebihan. Hal tersebut ibersamai dengan empati yang kurang dan kebutuhan untuk dikagumi yang terlalu besar. Orang dengan sifat ini membutuhkan orang lain untuk berpikir bahwa mereka kuat dan mengagumkan. Orang dengan sifat ini dapat menjadi pelaku pelecehan seksual jika mereka berpikir bahwa mereka kekurangan pengalaman seksual yang seharusnya “layak mereka terima”. Mereka tidak dapat memahami bahwa orang lain tidak dapat diperlakukan seperti itu oleh mereka.

Selanjutnya adalah kepribadian psikopat. Orang dengan kepribadian psikopat adalah pelaku eksploitasi yang manipulatif dan berani. Mereka tidak memiliki empati, namun sangat baik untuk berperilaku seolah-oleh berempati untuk mengeksploitasi korbannya. Psikopat melakukan pelecehan seksual karena mereka ingin. Ketika kesempatan muncul atau diciptakan oleh mereka sendiri, mereka akan mengambil keuntungan dari hal tersebut.

Selanjutnya Machiavellianisme, dinamai dari politisi Italia di jaman Reinasans, Niccolo Machiavelli. Karya besarnya, The Prince, menceritakan filosofi politik yang tidak bermoral dan menipu untuk pencapaian tujuan jangka panjang dengan segala cara.

Ketika ketiga karakteristik di atas disatukan, akan diperoleh suatu kombinasi pribadi yang senang melakukan eksploitasi, penipuan, dan manipulasi ditambah dengan kebutaan terhadap perasaan orang lain. Selain itu juga perasaan hebat yang berlebihan. Hal inilah yang mendorong terjadinya pelecehan seksual. Menurut penelitian pada hampir 2.000 anggota komunitas, ditemukan bahwa setiap karakteristik dalam The Dark Triad menambah kecenderungan untuk melakukan pelecehan seksual kepada orang lain.

Moral Disengagement

Moral disengagement adalah suatu proses kognitif ketika individu menciptakan versi realitanya sendiri di mana mereka menganggap bahwa prinsip moral yang ada tidak berlaku untuk mereka. Moral disengagement dikenalkan oleh seorang psikolog bernama Albert Bandura Terdapat beberapa bagian dari teorinya yang dapat menjelaskan mengenai perilaku pelecehana seksual :

  1. Moral justification, atau menggambarkan perilaku pelecehan sebagai sesuatu yang dapat diterima.
  2. Euphemistic labeling, atau menggunakan penamaan yang diganti dan lebih “bersih” untuk  menyebutkan perilaku pelecehan mereka. Seperti pada kasus Bill Cosby yang menyatakan bahwa perilaku kekerasan seksual yang dilakukannya sebagai “rendezvous” atau “pertemuan”.
  3. Displacement of responsibility, yaitu ketika pelaku mengaitkan perilaku pelecehan dengan dorongan di luar dirinya. Seperti yang dikatakan Harvey Weinstein, “Budayanya memang seperti itu
  4. Advantageous comparison, yaitu ketika pelaku menegaskan bahwa apa yang dapat dilakukannya bisa saja lebih buruk dari yang telah terjadi dan melakukan distortion of consequences ketika mereka mengurang-ngurangi bahaya yang diterima korban dari apa yang telah mereka lakukan.
  5. Dehumanization dan attribution of blame, yaitu ketika pelaku menghilangkan kepedulian terhadap korban dan menyalahkannya.

Hasil akhir dari pemikiran-pemikiran tersebut adalah para pelaku pelecehan akan merasa tidak bersalah. Dengan morral disengagement yang mereka kembangkan, mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang normal, pantas diterima, dan tidak menyebabkan kerugian apa pun.

Pikiran kita adalah hal yang mudah diubah : seringkali kita memilih perilaku yang akan kita tampilkan agar sesuai dengan nilai yang kita percaya. Namun terkadang, karena adanya moral disengagement, kita mengubah nilai untuk menyesuaikan perilaku kita. Pikiran tersebut menjadi cara bagi para pelaku pelecehan untuk mempertahankan pandangan mengenai diri mereka sebagai sosok yang tetap terhormat secara moral.

Terjadi di wilayah yang didominasi pria

Pelecehan seksual telah tercatat lebih umum terjadi pada area maskulin. Contohnya seperti militer, polisi, dokter bedah, finansial, dan yang terkini adalah jajaran tinggi industri hiburan. Kembali pada penelitian di tahun 1989 yang dilakukan kepada 100 perempuan pekerja pabrik, ditemukan bahwa perempuan yang berada pada posisi yang didominasi laki-laki secara signifikan lebih sering melaporkan mengalami pelecehan seksual dibandingkan dengan perempuan yang pekerja di posisi yang jumlah laki-laki dan perempuannya seimbang.

Sikap tidak bersahabat kepada perempuan

Sebuah penelitian di Jerman menguji apakah pelecehan seksual didorong oleh suatu motif seksual yang disebut  “short term mating orientation”, yang merupakan suatu ungkapan yang menjelaskan perilaku “cintai dia, lalu tinggalkan dia”; atau didorong oleh sesuatu yang disebut hostile sexism”, yang merupakan cara untuk mengintimidasi perempuan.

Hasil menunjukkan bahwa motif seksual memprediksi munculnya perhatian seksual yang tidak diinginkan oleh perempuan, namun motif hostile atau tidak bersahabat memprediksi baik perhatian seksual yang tidak diinginkan, maupun pelecehan gender. Hostile sexism yang ditunjukkan laki-laki yang menjadi responden penelitian adalah ketika mereka mendukung pernyataan-pernyataan seperti “perempuan terlalu mudah tesinggung” dan “dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika perempuan lebih mendukung laki-laki dan sedikit mengkritik”. Peneliti menyimpulkan bahwa pelecehan berupa candaan berbau seksual yang dilakukan oleh responden penelitian kepada wanita adalah untuk mempermalukan dan membangun atmosfer yang tidak bersahabat bagi wanita tersebut.

Dengan lebih mengenali karakteristiknya dan memberikan perhatian lebih kasus pelecehan seksual, semoga lebih banyak yang berani bertindak dan berbicara. Seperti yang dilakukan Via Vallen dan Gita Savitri. Adanya lebih banyak korban dan pemerhati yang bicara dapat mempermalukan pelaku dan memberikan efek jera kepadanya. Pelaku pun akan dapat lebih tersadarkan bahwa perilakunya menimbulkan kerugian dan tidak dapat diterima. Pada akhirnya kita perlu dan harus membangun suatu kondisi di mana tidak akan ada lagi tempat bagi perilaku pelecehan seksual.

Penulis: Sylvi Noor Alifah

Sumber:

Adam, Aulia. (11 Juni 2018). Melawan Budaya Perkosaan bersama Gitasav dan Via Vallen ditemui kembali pada 13 Juni 2018 dari https://tirto.id/melawan-budaya-perkosaan-bersama-gitasav-dan-via-vallen-cL5o

Putri, Silmia. (7 Juni 2018). Cerita Youtuber Gitasav Dilecehkan di Medsos, Malah Di-bully Netizen ditemui kembali pada 13 Juni 2018 dari https://wolipop.detik.com/read/2018/06/07/111847/4057563/1137/cerita-youtuber-gitasav-dilecehkan-di-medsos-malah-di-bully-netizen

Phd, Ellen Hendriksen. (20 Oktober 2017). Sexual Harassment: 4 Psychological Traits of Perpetrators ditemui kembali pada 8 Juni 2018 dari https://www.quickanddirtytips.com/health-fitness/mental-health/psychology-of-sexual-harassment

Ramdhani, Jabbar. (6 Juni 2018). Kasus Via Vallen dan Gunung Es Pelecehan Seksual di Indonesia ditemui kembali pada 13 Juni 2018 dari https://news.detik.com/berita/4056952/kasus-via-vallen-dan-gunung-es-pelecehan-seksual-di-indonesia    

Send this to a friend

Desainwebku