Pernahkah kalian mendengar isitlah paraphiliaParaphilia sendiri adalah sebuah gangguan dimana kondisi gairah dan kepuasan seksual individu bergantung terhadap fantasi atau terlibat dalam kegiatan seksual yang tidak biasa, atau ekstrim. Umumnya dikarakteristikan dengan adanya impuls atau dorongan akan kegiatan seksual yang tidak lazim tersebut secara intens dan secara berkala.

Gangguan paraphilia bisa berpusat terhadap objek yang spesifik (anak-anak, binatang, sepatu) atau terhadap suatu kegiatan tertentu (menyakiti diri sendiri, menerima rasa sakit, dls). Gangguan ini juga lebih umum terjadi pada laki-laki ketimbang perempuan. Sering kali, paraphilia dapat membuat masalah pribadi, karir, dan dapat menimbulkan konsekuensi sosial dan legal yang serius.

Ada beberapa bentuk dari paraphilia, diantaranya yang sering kita temui adalah:

  1. Exhibitionism (flashing)

Eksibisionis adalah gangguan dimana seseorang memperlihatkan alat kelaminnya terhadap orang asing. Individu dengan gangguan ini memiliki hasrat seksual bukan karena dia menunjukan daerah pribadinya pada orang lain, melainkan dari ekspresi sang korban yang terkejut atau takut. Berdasarkan DSM-V,  penderita dikategorikan memiliki gangguan ini jika setidaknya enam bulan secaea intens memiliki fantasi yang mengharuskan ia melakukan flashing.

Jika kalian bertemu pelaku seperti ini, jangan takut atau berteriak, karena itulah yang mereka cari. Jadi, cobalah untuk tetap tenang dan jika tidak berani untuk melawan, buang muka saja dan tak acuh.

  1. Fetishism

Penderita fetishisme memiliki gejolak seksual yang biasanya terhadap benda mati. Hanya dengan melihat atau menyentuh objek yang bersangkutan saja sudah membuat gairah seksual mereka bangkit. Misal, objek tesebut bisa berbentuk pakaian wanita, sepatu, atau pakaian dalam. Sebuah kelainan yang serupa, partialism (seringkali dianggap bagian dari fetish) merupakan kelainan dimana menjadi bergairah hanya dengan bagian tubuh yang spesifik, seperti kaki, leher, atau payudara.

BerdasarkanDSM-V, seseorang dikategorikan memiliki gangguan fetish jika penderita selama enam bulan memiliki fantasi dan perilaku fetish yang mengakibaktan gangguan stres dan gangguan fungsi seksual lainya jika ditahan.

  1. Frotteurism

Kalian pasti sering mendengar kasus seorang korban mengalami pelakuan tidak senonoh, dimana seorang pelaku menggesekan alat kelaminnya ke tubuhnya saat berada di kendaraan umum yang berdesakan. Tingkah pelaku itu merupakan contoh dari gangguan frotteurism. Dimana pelaku merasa gairah seksualnya bangkit setelah secara sengaja mendekatkan alat kelamin atau payudaranya (bagi penderita wanita) pada orang asing.

Ciri seseorang mengalami gangguan menurut DSM-V yaitu jika selama enam bulan memiliki fantasi dan dorongan untuk melakuakan frotteurism setidaknya terhadap tiga orang asing.

  1. Pedhophilia

Istilah ini sudah tidak asing ditelinga. Gangguan pedhophilia memiliki fantasi atau dorongan, untuk terlibat dalam aktifitas seksual dengan anak anak, dan biasanya anak yang dilibatkan berusia 13 tahun kebawah. Perilaku meyimpang ini biasanya termasuk menelanjangi sang anak, menonton video porno, menyentuh alat kelamin sang anak, dan secara paksa melakukan kegiatan seksual terhadap anak tersebut.

Ciri gangguannya berdasrkan DSM-V adalah lebih kuat tertarik secara seksual terhadap anak kecil dibanding orang dewasa selama enam bulan. Termasuk fantasi, perilaku seksual, maupun tontonan pornografi yang melibatkan anak kecil. Pelaku berusia minimal 18 tahun.

  1. Sexual Sadism dan Sexual Masochism

Gangguan ini merupakan bagian dari BDSM. Istilah ini semakin populer akibat novel dan film 50 Shades of Grey yang sempat ramai dibicarakan dimana kedua tokoh utama dikatakan memiliki gangguan Sadomasotis. Gangguan sadism yaitu penderita memiliki fantasi kenikmatan seksual yang didapat dengan cara memberikan penderitaan baik fisik (pukulan atau menggunakan alat-alat tertentu) maupun secara mental (mempermalukan dan menteror) pasangan seksual. Dalam bentuk ektrimnya, sexual sadism dapat terlibat pada kegatan illegal seperti pemerkosaan, penyiksaan, atau bahkan pembunuhan, dimana kematian sang korban memberikan pelaku kesenangan seksual.

Sedangkan gangguan masochism kebalikannya dari gangguan sadism. Dimana dengan dipermalukan secara verbal, atau melibatkan penyiksaan fisik (seperti pukulan), diikat, atau apapun yang berakhir dengan penyiksaan untuk mendapatkan kesenangan seksual. Masocist dapat berfantasi dengan cara memotong atau menusuk kulit mereka, bahkan membakarnya (misal memegang setrika panas).

Content Writer: Aulia Fanny | Content Editor & Ideation: Olphi Disya Arinda

Source:

Kring, A. M., Johnson, S., Davison, G.C., Neale, J.M., (2011). Abnormal psychology twelfth edition. United States: John Wiley & Sons, inc

Image: psychologpisze.pl

Send this to a friend