Pernahkan kamu merasa mengalami kembali suatu kejadian yang sudah pernah kamu alami? Atau merasa pernah melihat sesuatu yang sudah pernah kamu temui sebelumnya? Yap, kamu sedang mengalami sesuatu yang familiar disebut sebagai déjà vu. Lalu mengapa kita bisa mengalaminya? Apa yang terjadi dengan otak kita ketika kita mengalaminya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

Apa itu Déjà Vu?

Fenomena déjà vu pada awalnya dianggap sebagai akibat dari otak yang membuat suatu false memory atau memori palsu, namun penelitian yang dilakukan oleh Akira O’Connor dari University of St. Andrews, UK, dan timnya membuktikan bahwa hal tersebut ternyata salah. Fenomena ini telah menjadi suatu misteri yang sulit dipecahkan dan diteliti karena sifatnya yang cepat dan sulit terduga. Untuk menelitinya, O’Connor dan rekannya mengembangkan suatu cara untuk memicu suatu sensasi déjà vu di laboratorium.

Teknik yang digunakan adalah dengan metode standar untuk memicu memori palsu. Metode dilakukan dengan cara memberikan daftar kata yang saling berhubungan kepada individu—seperti tempat tidur (bed), bantal (pillow), malam (night), mimpi (dream)—tapi tidak memberikan kata kunci yang menghubungkan mereka, dalam hal ini adalah “sleep” (“tidur”). Ketika kemudian orang tersebut diberikan pertanyaan kata-kata apa saja yang mereka dengar, mereka cenderung percaya bahwa mereka mendengar kata “tidur”. Hal ini disebut sebagai memori palsu.

Untuk menciptakan sensasi déjà vu, O’Connor dan tim pertama-tama menanyakan apakah mereka mendengar kata-kata yang diawali dengan huruf “S” (dalam kata “sleep” atau “tidur”). Para partisipan penelitian kemudian menjawab bahwa mereka tidak mendengarnya. Kemudian ketika mereka ditanyakan apakah mereka mendengar kata “sleep”, mereka dapat mengingat bahwa mereka tidak mendengarnya, tapi mereka mengaku familiar dengan kata tersebut. Partisipan melaporkan pengalaman aneh tersebut sebagai déjà vu.

Benarkah Terjadi Akibat Konflik Otak?

Penelitian ini menggunakan fMRI untuk memindai otak dari 21 partisipan penelitian ketika mereka dipicu untuk mengalami déjà vu. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa area frontal otak yang berperan dalam pengambilan keputusan menjadi teraktivasi dalam peristiwa tersebut.

O’Connor menganggap bahwa area frontal otak kemungkinan sedang melakukan pemeriksaan terhadap memori, dan mengirimkan sinyal apabila terdapat beberapa error dalam memori. Error dalam memori merupakan konflik antara apa yang betul-betul kita alami dengan apa yang kita pikir kita alami. Stefan Kohler menyatakan hal ini menunjukkan bahwa ketika kita mengalami déjà vu, otak kita sedang menciptakan resolusi dari konflik tersebut.

Menandakan Otak yang Sehat?

Jika penemuan ini telah dikonfirmasi, hal ini menunjukkan bahwa déjà vu merupakan tanda bahwa sistem pemeriksaan memori yang dilakukan oleh otak kita berjalan dengan baik. Selain itu, kita juga cenderung akan lebih sedikit mengalami salah ingat terhadap suatu peristiwa.

Déjà vu lebih umum dialami oleh orang yang lebih muda dan hilang pada usia tua sejalan dengan kemunduran memori. Yang terjadi pada orang tua adalah kemungkinan mengalami penurunan pada sistem pemeriksaan otak dan kemampuan untuk mengenali memori yang salah.

Namun menurut O’Connor, orang yang tidak mengalami déjà vu sama sekali bisa saja memiliki sistem memori yang lebih baik karena mereka tidak membuat error dalam memori mereka, sehingga tidak memicu kemunculannya.

Menurut Kohler, belum ditemukan apakah déjà vu bermanfaat. Bisa jadi pengalaman déjà vu membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati karena mereka merasa tidak percaya dengan memori mereka sendiri, namun hal ini masih belum bisa dibuktikan.

Penulis: Sylvi Noor Alifah

Sumber :

Hamzelou, J. (2016, August 16). Mystery of déjà vu explained – it’s how we check our memories. Ditemu kembali dari https://www.newscientist.com/article/2101089-mystery-of-deja-vu-explained-its-how-we-check-our-memories/

Send this to a friend

Desainwebku