Tangan mana yang lebih sering kamu gunakan, kiri atau kanan? Tangan dominanmu ternyaata mempengaruhi terapi untuk kesehatan mentalmu loh! Menurut suatu model emosi terbaru, penanganan masalah kesehatan mental yang umum dapat  tidak efektif bahkan merugikan bagi sekitar 50% populasi manusia. Mengapa hal ini bisa terjadi?  Apakah ada perbedaan antara kidal dan kanan dominan? Yuk kita simak penjelasan di bawah ini!

Temuan dari penelitian terdahulu

Sejak 1970-an, ratusan penelitian telah menyatakan bahwa hemisfer otak merupakan rumah bagi tipe spesifik emosi tertentu. Emosi yang berhubungan dengan bagaimana seseorang melakukan pendekatan dan terikat dengan dunia seperti emosi bahagia, bangga, dan marah, terletak di bagian otak kiri. Sedangkan emosi yang berhubungan dengan penghindaran, seperti jijik dan takut, terletak di otak kanan. Penelitian-penelitian tersebut dilakukan hampir hanya pada orang dengan dominan tangan kanan. Menurut Daniel Casasanto, profesor perkembangan manusia dan psikologi di Cornell University,hal ini menyebabkan pemahaman yang salah mengenai cara kerja emosi otak. 

Temuan terbaru: Gimana emosi orang kidal?

Model yang sudah berlangsung lama tersebut, ternyata berkebalikan pada orang kidal. Emosi yang berhubungan dengan tekad dan kewaspadaan terletak pada otak bagian kanan bagi orang kidal. Bahkan dalam penelitian baru yang dilakukan Casasanto, lokasi sistem syaraf seseorang untuk emosinya bergantung pada apakah mereka kidal, pengguna tangan kanan dominan, atau di antara keduanya. Menurut suatu teori terbaru bernama sword and shield hypothesis, cara kita bekerja dengan tangan kita menentukan bagaimana emosi kita tersusun di dalam otak kita. Pada jaman dahulu, seorang prajurit akan menggunakan pedang mereka dengan tangan yang dominan untuk menyerang musuh yang disebut sebagai aksi pendekatan dan mengangkat perisai mereka untuk  dengan tangan yang tidak dominan untuk melindungi diri dari serangan yang disebut sebagai aksi penghindaran. Konsisten dengan kebiasaan ini, hasil menunjukkan bahwa emosi pendekatan bergantung pada hemisfer otak yang mengontrol tangan “pedang” dominan, dan emosi penghindaran berada pada hemisfer yang mengontrol tangan “perisai” tidak dominan.

Teori ini menimbulkan suatu implikasi untuk penanganan depresi dan kecemasan yang disebut sebagai terapi syaraf. Teknik ini melibatkan stimulasi listrik atau magneti ringan ke otak sebelah kiri untuk mendorong emosi yang berhubungan dengan pendekatan. Namun, Casasanto menyatakan bahwa penanganan ini dapat bersifat merusak bagi pasien kidal. Stimulasi di otak kiri justru dapat mengurangi emosi pendekatan. Casasanto menyatakan jika orang kidal diberikan penanganan yang standar, mereka justru dapat mengalami hal yang lebih buruk.

Penerapan temuan terbaru

Banyak orang yang tidak benar-benar kidal ataupun benar-benar pengguna tangan kanan dominan, stimulasi tidak akan memberikan banyak perubahan untuk mereka karena emosi pendekatan mereka tersebar di antara kedua hemisfer. Hal ini meunjukkan bahwa pengguna tangan kanan dominan yang kuat perlu memperoleh penanganan yang normal, namun jumlah mereka hanya 50% dari seluruh populasi. Sedangkan orang yang benar-benar kidal perlu memperoleh penanganan yang sebaliknya. Orang yang berada di tengah (tidak benar-benar kidal dan menggunakan tangan kanan dominan) seharusnya tidak memperoleh penanganan sama sekali.

Walau bagaimana pun, Casasanto memperingatkan bahwa penelitian ini baru dilakukan kepada individu yang sehat dan diperlukan penelitian lanjutan untuk memperluas temuan ini kepada penerapan klinis. Menarik bukan?

Penulis: Sylvi Noor Alifah

Sumber :

Cornell University. ( June 18, 2018).Why Being Left-Handed Matters for Mental Health Treatment. Ditemui kembali pada 10 Juli 2018 dari https://www.psypost.org/2018/06/left-handed-matters-mental-health-treatment-51545

Send this to a friend

Desainwebku