Belum lepas dari ingatan kita mengenai peristiwa yang mengejutkan terjadi di Tunjungan Plaza 6 Surabaya. Disebutkan dalam banyak media bahwa ada seorang lelaki yang berprofesi sebagai seorang dokter yang mengakhiri hidupnya di lokasi ini. Apa sih yang menjadikan berita tersebut banyak disoroti? Ternyata bukanlah peristiwanya, namun karena ia berprofesi sebagai seorang tenaga medis, yaitu dokter. Pasti diantara kita banyak yang bertanya-tanya bagaimana seorang dokter bisa melakukan hal seperti itu? Apa sih penyebabnya?

Keputusan bunuh diri adalah hal yang cukup kompleks

Kita sepakati dulu ya di awal, kalo yang namanya bunuh diri erat kaitannya dengan kesehatan mental. Menurut WHO, kesehatan mental sebagai keadaan kesejahteraan dimana setiap orang menyadari potensinya, bisa mengatasi stres dengan normal, bisa bekerja dengan produktif dan membuahkan hasil, serta dapat berkontribusi pada lingkungannya. Jadi, semua orang bisa mengalami masalah bila semua yang disebutkan ini tidak terpenuhi dengan baik. Nah, dalam berita yang beredar, dokter ini dikabarkan tidak lulus PDS (Profesi Dokter Spesialis) yang menyebabkan ia melakukan bunuh diri. Dengan kata lain, bunuh diri itu sendiri merupakan kasus yang kompleks, jadi satu masalah yang digembar-gemborkan di media nggak bisa jadi penyebab tunggal dari kejadian ini.

Tenaga medis juga rentan mengalami gangguan kesehatan mental

Depresi, kejenuhan, dan bunuh diri terjadi paling tinggi pada profesi medis. Satu dari tiga dokter mengalami depresi yang adalah dua kali lebih besar dibandingkan orang biasa dan sekitar 400 dokter bunuh diri setiap tahunnya. Penelitian yang dilakukan Universitas Michigan melaporkan bahwa hanya 6% dokter yang didiagnosis depresi melaporkannya kepada dewan medis negara bagiannya.

Apa yang menyebabkan demikian?

Ternyata, pekerja medis seperti dokter sering mengalami stres yang tinggi disebabkan oleh pemicu stres kerja yang khusus termasuk jam kerja yang panjang, kurang tidur, kurangnya dukungan sosial serta berurusan dengan kematian dan sekaratnya pasien. Belum lagi dituntut sempurna, kalo salah saat melakukan pekerjaannya, sang dokter bisa dibebankan sama kesalahannya sendiri. Ouch! Gimana ngga berat tuh? Ini baru dalam profesinya, belum sebagai perorangan yang bisa beda-beda cara mengelola kesehatan mentalnya. Hmmmm.

Terus kenapa ya dokter dan tenaga medis yang sewajarnya paham dengan isu ini ngga bilang aja, kok malah menolak mencari bantuan?
1. Masih adanya stigma “lemah” terhadap dokter yang memiliki masalah dalam kesehatan mental
2. Adanya kekhawatiran dicabutnya ijin praktek bila diketahui

Kedua hal inilah yang membuat dokter atau tenaga medis semakin enggan untuk mencari bantuan. Jadi apa yang harus dilakukan untuk mencegah biar kejadian ini nggak terulang? Satu hal yang ngga boleh dilupain, dokter atau tenaga medis juga manusia biasa sama kayak kita-kita. Punya masalah kesehatan mental bukan berarti orang itu lemah kok, sama seperti saat kita sakit secara fisik, yang diperlukan adalah mendapat bantuan profesional. So, jangan segan-segan yah menghubungi profesional untuk konsultasi lebih lanjut.

Bila mengalami pemikiran atau melihat indikasi seseorang akan melakukan bunuh diri mohon hubungi 119 (kemenkes) atau hubungi profesional yang menyediakan layanan konsultasi seperti psikolog atau psikiater.

Penulis: Hervi Utami

Sumber: Erica Hoffman on June 27, 2017 ditemu kembali dari https://www.mentalhealthfirstaid.org/2017/06/medical-professionals-face-mental-health-issues/

Send this to a friend

Desainwebku