Siapa yang setuju kalau dalam sebuah hubungan, kedua belah pihak sudah seharusnya saling berkembang dan bertumbuh menjadi individu yang lebih baik? Sepertinya semua memikirkan hal yang sama bukan? Pasangan kita sudah seharusnya menjadi sosok yang kita jadikan bahu untuk bersandar, sesosok ‘rumah’ bagi kita di saat kita merasa sedih atau sedang berada dalam masalah. Sesosok bagi kita untuk ‘berteduh’ di tengah badai yang mungkin muncul di aspek kehidupan lainnya. Sayangnya, rasa nyaman dan aman ini tidak dapat dirasakan apabila seorang berada dalam hubungan yang tidak sehat atau abusive relationship. Pembahasan mengenai isu ini, tidak dapat dipungkiri, merupakan hal yang sulit dan cukup sensitif. Namun, kesadaran masyarakat terkait hal ini perlu ditingkatkan.

Mengapa demikian? Seringkali, kekerasan baru dianggap sebagai ‘kekerasan’ saat terjadi aksi pukul-memukul atau penganiayaan; saat terlihatnya luka atau memar pada tubuh pihak yang bersangkutan. Namun, seringkali ‘luka’ yang dirasakan tidaklah kasat mata. Tahukah kamu kalau tindakan mengancam, membatasi aktivitas pasangan atau hubungannya dengan teman-teman maupun keluarganya, serta tindakan seperti mengejek pasangan dengan intensi menyakiti juga merupakan tindakan kekerasan secara psikologis? Kita, yang pasti merupakan bagian dari dukungan sosial seseorang, perlu untuk mengetahui informasi yang mungkin terkesan sepele ini. Selanjutnya, Walker (dalam Davhana-Maselesele, 2011) juga menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan merupakan sebuah siklus yang terdiri atas tiga bagian, yaitu tension building, violence, dan honeymoon phase.

Fase tension building ditandai dengan munculnya konflik di antara pasangan dalam sebuah hubungan. Misalnya, munculnya kecurigaan pada pasangan. Keadaan ini akan terus berlangsung, memuncak, dan pada akhirnya berujung pada perseteruan yang melibatkan kekerasan di dalamnya. Keadaan ini menggambarkan fase violence. Nah, fase selanjutnya atau fase honeymoon-lah yang biasanya membuat penyintas* memutuskan untuk tidak meninggalkan pelaku. Kok bisa? Hal ini dikarenakan dalam fase ini, pelaku akan meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan melakukannya lagi. Selain itu, hal ini juga disebabkan karena adanya dinamika antara love, hope, dan fear dalam diri penyintas (Vetcamp & Miller, dalam Davhana-Maselesele, 2011). Dengan kata lain, penyintas masih mengasihi dan berharap kalau sang pelaku dapat berubah tetapi di sisi lain penyintas pun merasa takut akan konsekuensi apabila ia meninggalkan pasangannya tersebut.

Penting bagi kita untuk mengetahui bahwa tindakan ini merupakan sebuah siklus yang berarti pelaku pasti mengulanginya. Keputusan untuk keluar dari hubungan ini pasti bukanlah sebuah keputusan yang mudah untuk diambil, namun keputusan yang benar memang seringkali bukanlah keputusan yang mudah. Mungkin sekarang kamu merasa sedih dan sulit untuk melakukannya tetapi ke depannya kamu akan merasakan kebaikannya. Mungkin sulit untuk menceritakan dan membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain tetapi ketahuilah bahwa mereka ada untukmu. Penting juga bagi kita sebagai social support untuk memberikan dukungan, baik dalam bentuk dukungan emosional, motivasi, maupun masukan. “The moment that you start to wonder if you deserve better, you do”

*penyintas merupakan kata ganti ‘korban’ karena penyintas memiliki makna yang lebih positif dibandingkan dengan ‘korban’, yaitu mereka yang berhasil bertahan dan mempertahankan keadaannya.

Content Writer: Nathania Vrischika | Content Editor & Ideation: Olphi Disya Arinda

Source:

Davhana-Maselesele, M. (2011). Trapped in the cycle of violence: A phenomenological study describing the stages of coping with domestic violence. Journal of Social Science, 29(1), 1-8.

Send this to a friend