“Anak zaman sekarang mainannya mah gadget, Instagram melulu. Dulu kita mah main ular tangga, gobak sodor.” Ujaran ini mungkin salah satu bentuk ekstrim dari celetukan orang dewasa di zaman ini. Teman-teman setuju tidak? Saat berjalan di mal, kebanyakan dari kita mungkin tenggelam dalam dunia sendiri atau dengan kata lain bermain dengan gadget masing-masing; mencari interaksi. Ironisnya, interaksi tersebut sebenarnya berada di depan mata, seandainya saja kita berfokus pada dunia yang sebenarnya. Beberapa hal yang mungkin kita cari melalui surfing di internet, sebenarnya dapat kita peroleh tanpa internet semata. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi, lebih tepatnya internet dan media sosial, sudah menjadi sohib baru anak-anak zaman sekarang. Perkembangan zaman dan teknologi semacam ‘memaksa’ kita untuk bersahabat dengan gadget. Berbicara mengenai dampak negatif dan positif internet sepertinya tidak akan pernah ada habisnya.

Mungkinkan gadget memberikan dampak bagi kesehatan mental kita?

Mari melihat dampak negatifnya dari kacamata psikologi. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin sering remaja menghabiskan waktunya di depan gadget, maka semakin tinggi kemungkinan mereka untuk mengalami depresi (Twenge, Joiner, Rogers & Martin, 2017). Bahkan, hal tersebut juga berhubungan dengan angka bunuh diri yang meningkat. Kok bisa ya? Hal ini disebabkan karena dengan menghabiskan lebih banyak waktu browsing internet, individu tersebut lebih jarang melakukan aktivitas yang melibatkan orang lain. Misalnya, berolahraga dan menghadiri kegiatan religius (Twenge et al., 2017), sehingga remaja tersebut dapat dikatakan kurang melibatkan diri dalam hubungan interpersonal yang sehat (Maras, Murray, Buchholz, Henderson, Obeid & Goldfield, 2016). Belum lagi, dengan adanya media sosial, penggunanya juga terpapar pada cyber-bullying (Kowalski & Limber dalam Maras et al., 2016).

Gadget yang mengendalikan manusia, atau sebaliknya?

“Mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat”. Internet, layaknya kebanyakan hal pada umumnya, merupakan koin yang memiliki dua sisi. Ini merupakan sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri. Sebagai akibatnya, dampak negatif dan positif dari internet harus ‘hidup’ satu dengan yang lainnya; satu sisi tidak dapat ‘hidup’ tanpa sisi lainnya. Tidak ada yang dapat kita lakukan terkait dengan fakta tersebut. Memang, masih ada faktor lain yang mempengaruhi kesehatan mental kita. Beberapa mungkin tidak dapat kita kontrol, namun apabila hal tersebut dapat kita kontrol, mengapa tidak? Yuk, letakkan gadget-mu saat kumpul dengan teman-teman. Yuk, gunakan waktumu untuk memiliki interaksi di dunia nyata. Perubahan, lagi-lagi, memang tidak mudah tetapi kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Yuk, sama-sama melangkah menuju kita yang lebih sehat mental! 🙂

Sumber:
Maras, D., Flament, M. F., Murray, M., Buchholz, A., Henderson, K. A., Obeid, N., & Goldfield, G. S. (2015). Screen time is associated with depression and anxiety in Canadian youth. Preventive Medicine, 73, 133-138.

Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2017). Increases in depressive symptoms, suicide-related outcomes, and suicide rates among U. S. adolescents after 2010 and links to increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 1-15.

Image: unsplash.com

Send this to a friend

Desainwebku