Pemilu. Hmm, tidak terasa ya, sekarang ini kita sudah menjalani sepertiga bagian dari tahun 2018. Time flies so fast, doesn’t it? Rasanya, baru saja mengedipkan mata dan menghela nafas sejenak, kita mungkin sudah ada di penghujung 2018. Tiba-tiba, sudah harus memilih presiden baru saja di tahun 2019 nanti. Teman-teman semua pasti familiar dengan isu-isu politik yang sedang marak di masyarakat terkait hal ini. Mungkin teman-teman sudah mulai memikirkan elektabilitas dari ‘capres’ yang dirumorkan akan maju. Nah, kali ini kita akan membahas mengenai apakah seharusnya para calon politikus negara seharusnya menjalani evaluasi psikologis?

Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik

Siapa sih yang ingin memiliki seorang pemerintah yang tidak dapat diandalkan? Maksudnya adalah kita semua pasti ingin dapat mempercayai orang yang telah kita pillih, bukan? Kita semua tahu bahwa menjadi seorang politikus atau pemerintah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan membutuhkan kemampuan decision making yang baik. Misalnya saja, ditemukan bahwa sebanyak seperlima anggota parlemen Inggris melaporkan bahwa mereka pernah mengalami isu kesehatan mental. Ditambah lagi adanya faktor-faktor eksternal, seperti kesulitan ekonomi, yang dapat meningkatkan dampak buruk tersebut. Stressor dan tekanan yang ada serta tidak ditangani kemudian juga dapat berdampak pada kinerja mereka.

Bukan Berarti Mendukung Diskriminasi berdasarkan Kesehatan Mental

Eits, tunggu dulu, Sobat. Bukan berarti kondisi kesehatan mental seseorang kemudian menjadi sebuah batu sandungan, melainkan untuk menjadi bahan pertimbangan mengingat mereka akan terjun ke dalam dunia yang stressful. Tidak seharusnya kita menyia-nyiakan seseorang yang brilian karena kondisi kesehatan mentalnya. Namun, adanya dukungan merupakan solusi yang baik merupakan sebuah hal yang penting agar para politikus dapat mengatasi stres yang mereka alami. Toh, para politikus dan pemerintah tidak diharapkan untuk menjadi sempurna, bukan? Mereka juga berhak untuk mendapatkan ‘bantuan’.

Menjadi Rakyat yang Berempati

Telah disebutkan sebelumnya bahwa dukungan yang baik merupakan salah satu hal yang dibutuhkan oleh para politikus. Terlepas dari apapun itu, politikus merupakan pekerjaan yang menantang. Mungkin memang dibutuhkan transparansi terkait apa saja yang sebenarnya menjadi tugas dan pekerjaan dari pemerintah atau politikus, supaya kita para rakyat pun mampu mengerti serta memahami beban kerja yang dipikul. Mungkin sebenarnya dukungan dari rakyat pun juga dibutuhkan. Selain itu, ada baiknya pula kalau para politikus dan pemerintah ini diberikan akses kepada psikolog atau konselor.

Tidak seharusnya kesehatan mental dipandang sebelah mata, sehingga kondisi psikologis para calon ‘wakil rakyat’ pun rasa-rasanya perlu dievaluasi. Bukan sebagai sebuah kekurangan, melainkan menjadi sebuah ‘alat’ untuk semakin mengenal diri sendiri sebelum terjun ke ‘zona perang’. Bagaimana menurut kamu?

Sumber:

Tickle, L. (2012, 23 Januari). Should politicians have their mental health monitored? Ditemu kembali dari https://www.theguardian.com/education/2012/jan/23/politicians-stress-mental-health-monitor

Weinberg, A. (2017). The mental health of politicians. Palgrave Communications, 1-4.

Photo: presidenri.go.id

Send this to a friend

Desainwebku