Ketika selesai menonton film “21 Steps of May” sebuah film tentang perjuangan penyintas pemerkosaan, saya belajar banyak hal. Butuh sembilan tahun untuk May seorang korban pemerkosaan untuk menerima kenyataan dan lepas dari beban masa lalunya. Barangkali ada yang butuh waktu lebih atau kurang dari itu. Namun ada juga yang memutuskan menghentikan perjuangan dengan mengakhiri hidup.

Beban Penyintas

Tindakan pemerkosaan jamak diasosiasikan sebagai tindakan perenggutan kehormatan seseorang. Hal ini yang kerap menjadi beban yang bisa membuat mereka yang mengalami perkosaan depresi. Hal lain yang menjadi beban adalah kemarahan yang sudah tidak terbendung lagi, lantaran pelaku bebas berkeliaran. Sehingga tidak heran penyintas kekerasan seksual perlu waktu lama untuk sembuh dari beban depresi dan trauma tersebut.

Kondisi masyarakat dengan corak berpikir patriarkis yang kuat, membuat korban kekerasan seksual—yang umumnya adalah perempuan—menjadikannya beban tambahan. Corak berpikir yang stigmatisasi, menyalahkan korban hingga mengabaikannya membuat penyintas harus berjuang lebih berat lagi.

Sehingga penting untuk memahami apa yang perlu dilakukan ketika ada seseorang, entah teman dekat, keluarga, atau pasangan, mengalami kekerasan seksual. Jangan sampai ketika kita ingin membantu, justru kita malah menambah beban bagi penyintas kekerasan seksual.

Mendampingi Penyintas Kekerasan Seksual

Di film “21 Steps of May” menempatkan penyintas kekerasan seksual pada subjek utama. May dan banyak korban kekerasan seksual lain adalah individu yang menjadi kunci atas dirinya sendiri. Hanya diri mereka sendiri yang bisa menyembuhkan diri mereka sendiri dari trauma kekerasan seksual.

Orang tua, teman, kerabat, psikolog, dan siapapun perlu dipahami hanya sebatas support group yang semestinya menyediakan ruang untuk penyintas kekerasan seksual berdialog dengan dirinya sendiri. Ketersediaan ruang ini penting sekali untuk membantu penyintas kekerasan seksual.

Selain hal tersebut, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk kamu yang ingin membantu penyintas kekerasan seksual lepas dari depresi dan trauma perkosaan:

  1. Tidak Mengadili

Penyintas kekerasan seksual adalah orang yang perlu dibela bukan dipersalahkan. Justru pelaku kekerasan seksual yang harus dihakimi. Namun, selama ini kita sudah terbiasa bahkan membudaya untuk menghakimi penyintas kekerasan seksual. Banyak contohnya, misalnya menyalahkan cara berpakaian, bepergian terlalu malam, atau tidak menjaga etika. Bagaimanapun juga setiap tempat, setiap waktu, dan dengan cara berpakaian seperti apa pun, siapa pun berhak untuk merasa aman dan terlindungi. Termasuk perempuan. Sehingga keliru menghakimi atau menyalahkan penyintas. Mereka adalah orang yang berhak dibela dan dilindungi bukan diadili atau dipersalahkan.

2. Membangun Hubungan yang Setara

Tanpa hubungan yang setara sulit untuk seseorang membantu penyintas menghadapi depresi dan trauma kekerasan seksual. Lantaran membangun ruang yang nyaman dengan siapa pun itu perlu hubungan yang setara. Pun misalnya seseorang memang memiliki hubungan yang bisa menimbulkan relasi kuasa, misalnya orang tua dengan anak, penting untuk memangkas relasi kuasa tersebut. Hal ini akan mempengaruhi banyak hal, misalnya pengambilan-pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penyintas kekerasan seksual. Tanpa hubungan yang setara sulit bagi seorang penyintas memilih dan memutuskan hal-hal yang berkaitan dengannya.

3. Pengambilan Keputusan Sendiri

Bagaimanapun juga yang sedang menghadapi beban depresi dan trauma kekerasan seksual adalah penyintas. Sehingga penyintas sendiri yang dapat mengukur dirinya sendiri. Segala bentuk keputusan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan harus diambil oleh penyintas sendiri. Kita hanya sebatas memberikan ruang yang nyaman untuk penyintas mengambil keputusannya. Selain itu juga dapat memberi akses informasi yang memadai, tanpa menggurui, bagi penyintas mengambil keputusan. Hal ini penting dipahami bagi siapapun yang ingin mendampingi penyintas kekerasan seksual.

4. Pemberdayaan

Di film “21 Steps of May” ada sebuah adegan yang diperankan May secara terus menerus dilakukannya. Yaitu mendekorasi boneka untuk kemudian dijual. Hal ini adalah bagian dari pemberdayaan penyintas kekerasan seksual. Banyak hal bisa dilakukan untuk terus memberdayakan penyintas. Memberikan akses—baik berupa akses terhadap ekonomi, pendidikan, dan sektor bidang lain—kepada penyintas, membantu mereka untuk terus berjuang melawan beban depresi dan traumanya. Bagaimanapun juga penyintas masih memiliki hak-hak dasar sebagai manusia, penting untuk membantu mereka dengan pemberdayaan. Selain itu hal ini juga membantu mereka untuk menyiapkan kehidupan yang lebih baik pasca lepas dari beban depresi dan traumanya.

  1. Menjaga Kerahasiaan

Bagi penyintas kekerasan seksual, mereka sedang mengalami krisis kepercayaan. Sehingga penting untuk menjaga dan menunjukan kepercayaan mereka dengan menjaga kerahasiaan. Kerahasiaan yang dimaksud adalah apapun yang menyangkut penyintas dan apa yang sudah terjadi. Kerahasiaan ini amatlah penting bagi penyintas kekerasan seksual untuk membuat mereka terus merasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri. Sehingga apapun yang menyangkut penyintas, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari mereka.

Penulis: Triyo Handoko
Editor: Elga Theresia

Sumber:

Panduan Konseling Berbasis Gender, 2002, Rifka Annisa.

Desainwebku