Mudah terpicu di sosial media, kemudian aktif menanggapinya bisa disebakan karena kurangnya self-control atau kurangnya pengendalian diri. Padahal tidak selamanya apa yang kita kicaukan di media sosial —karena satu isu tertentu—bisa merubah keadaan. Belum tentu berdampak positif terhadap sesuatu yang sedang kita tanggapi, bisa jadi malah membawa hal negatif pada diri kita.

Mudah sekali kita temui perdebatan di media sosial. Bahkan lebih banyak perdebatan yang tidak sehat dibanding yang sehat. Kita sendiri mungkin sering mengikuti perdebatan tersebut. Misalnya, saya kerap hanyut ikut dalam perdebatan di Twitter soal bagaimana perempuan selalu dinegasikan otoritasnya.

Di ruang terbuka seperti media sosial, tidak ada yang bisa menjamin bahwa perdebatan yang berlangsung sehat. Perdebatan yang sehat adalah non- judgmental (tidak menghakimi), non-diskriminatif, mengedepankan rasio, tidak rasis, dan banyak hal lain yang tidak melukai personal seseorang.

Masalahnya ruang sosial media yang diisi oleh beragam orang dengan kebebasannya yang luas tidak bisa memastikan hal di atas. Pada beberapa hal kita bisa berbagi ide. Namun belum tentu ide tersebut ditanggapi dengan baik oleh orang lain. Apalagi jika kita mengakses sosial media tanpa self-control yang baik. Lantaran self-control yang kurang dalam media sosial, bisa menyebabkan beberapa hal berikut:

1. Stres

Media sosial bisa mengurangi stres. Namun juga bisa membuat kita stres. Perdebatan yang tidak sehat yang kita ikuti di sosial media berkemungkinan membuat kita stres. Apalagi bila perdebatan tersebut menjadikan diri kita terhakimi. Pengahakiman tanpa dasar dari perdebatan yang tidak sehat di sosial media tentu saja membuat kita stres.

2. Menghabiskan Waktu

University of Pennsylvania merilis hasil penelitiannya bahwa mengurangi waktu ber-media sosial hingga di bawah 30 menit membuat kesehatan mental baik. Bisa dibayangkan bukan bila kita bersosial media lebih dari jumlah waktu tersebut dan hanya dihabiskan dengan perdebatan yang tidak menjamin perdebatan berjalan dengan sehat. Sudah menghabiskan waktu lama, menganggu kesehatan mental pula.

3. Mendapat Bullying

Banyak sekali saya temukan konten perdebatan dalam sosial media yang sifatnya bullying (perundungan). Bagaimanapun juga bullying yang dilakukan secara online tetaplah bullying. Bahkan tidak jarang menjurus pada persekusi. Dua hal yang tidak berhak dilakukan oleh orang lain kepada diri kita. Menghindari bullying dan persekusi online dengan tidak melakukan perdebatan di media sosial , bukankah lebih baik untuk kesehatan mental kita.

4. Depresi

Perlu diketahui juga bahwa penelitian dari University of Pittsburgh menunjukan bahwa orang yang terlampau aktif menggunakan media sosial setiap hari memiliki risiko depresi. Rasionya dibanding dengan yang tidak terlapau aktif bersosial media adalah tiga kali lebih besar.

Penelitian lain dari Case Western Reserve School of Medicine juga menunjukan hal serupa. Kecanduan media sosial dengan perilaku sembrono, khususnya pada remaja,  berisiko terbiasa tidak berpikir panjang. Misalnya merokok, minum alkohol, dan berhubungan seks. Rasionya dengan mereka yang tidak kecanduan sosial media adalah 3,5 kali lebih besar. Yuk, mari meningkatkan self-control dalam bersosial media!

Penulis: Triyo Handoko
Editor: Elga Theresia

Referensi:

  1. This Is How Much Time You Should Spend On Social Media Per Day
  2. 7 Negative Effects of Social Media on People and Users
  3. Media Sosial: Suaka atau Penjara Baru untuk Berekspresi?
Desainwebku