Menurut Smith (2016), bullying (perundungan) merupakan perilaku agresif yang dilakukan berulang (lebih dari sekali) dan terdapat kekuasaan yang tidak seimbang sehingga sulit bagi korban untuk melindungi dirinya sendiri. Ketika kita membicarakan soal bullying, ada pelaku, korban, dan saksi. Korban mengalami dampak langsung dari perilaku bullying itu sendiri, seperti trauma, depresi, ataupun anxiety. Namun, tahukah kamu bahwa orang yang menyaksikan kejadian bullying juga dapat mengalami dampaknya? Penelitian menemukan bahwa saksi bullying berisiko mengalami beberapa konsekuensi psikologis.

  1. Rasa Khawatir

Bayangkan jika kamu melihat temanmu sendiri mengalami bullying secara fisik, bagaimanakah perasaanmu? Penelitian dari Rikers dkk, (2009), menyatakan bahwa bullying menyebabkan rasa khawatir bagi saksi. Hal ini terjadi karena orang yang menyaksikan bullying takut jika suatu saat ia juga menjadi korban bullying.

  • Rasa Bersalah

Ketika saksi bullying merasa tidak mampu membantu korban, ia akan merasa bersalah. Lebih jauh lagi, rasa bersalah tersebut dapat mengarah pada konflik approach-avoidance, yang mana ia memiliki keinginan kuat untuk membantu, tetapi di saat yang sama memiliki keinginan yang kuat untuk menghindari situasi tersebut.

  • Kekerasan

Ketika menyaksikan tindakan bullying, saksi mengalami dilemma dimana ia memiliki keinginan untuk menolong, tetapi pada kenyataannya, tidak ada tindakan berarti yang dilakukan. Ketidakmampuan saksi bullying untuk membantu korban dapat meningkatkan risiko kekerasan (hostility) pada saksi bullying itu sendiri.

  • Memperkuat Perilaku Bullying

Pada situasi bullying, anggaplah terdapat enam saksi yang hanya “menonton” tanpa melakukan apapun. Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut hanya akan menjadi “penguat” perilaku bullying. Pasalnya, orang-orang yang menyaksikan tindakan si pelaku hanya akan membuat pelaku semakin “senang”.

  • Penyalahgunaan Zat

Rikers dkk menemukan bahwa pelaku bullying yang di saat yang sama juga pernah menjadi saksi bullying memiliki tingkat penyalahgunaan zat yang lebih tinggi dibanding pelaku atau saksi saja.

  • Mengarah pada Tindakan Bullying Selanjutnya

Bullying dapat menjadi hal yang menakutkan bagi yang menyaksikannya. Sehingga, para saksi bullying juga dapat melakukan tindakan bullying demi menghindari perlakuan serupa.

Menyikapi tindakan bullying memang tidak mudah, apalagi jika kamu menjadi saksinya. Membela korban ketika ia mengalami tindakan bullying merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Namun, jika kamu merasa takut, maka laporkan pada atasan yang lebih berwenang, seperti guru atau kepala sekolah. Jika kedua hal tersebut masih tidak dapat dilakukan, maka mengikuti kampanye anti-bullying secara langsung maupun dengan menuliskannya, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bullying itu sendiri. Jika kamu merasakan ketidaknyamanan yang berkepanjangan karena menyaksikan kejadian tersebut, jangan ragu untuk bercerita pada orang terdekat atau konselor profesional.

Penulis: Jannah Yuniar
Editor: Elga T.

Referensi:

https://www.verywellfamily.com/how-witnessing-bullying-impacts-bystanders-460622

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/beyond-pink-and-blue/201504/bullying-hurts-everyone-even-bystanders

https://www.apa.org/news/press/releases/2009/12/witness-bullying

https://www.researchgate.net/publication/307872376_Bullying_Definition_Types_Causes_Consequences_and_Intervention_Bullying

https://www.girlshealth.gov/bullying/school/index.html

Desainwebku