Belum semua orang mengetahui bahwa aktivitas membaca buku berpengaruh terhadap kondisi psikologis. Selama ini membaca buku diketahui hanya sebatas aktivitas menambah pengetahuan. Padahal, sudah sejak zaman Yunani Kuno, orang membaca buku untuk memperbaiki dan menjaga kesehatan mental.

Menurut penelitian yang dilakukan The Reading Agency, sebuah lembaga amal dari Inggris, menyebutkan bahwa aktivitas membaca buku banyak berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. The Reading Agency menyebutkan dibanding mendengarkan musik, membaca buku 68% lebih berpengaruh secara signifikan untuk mengurangi stres. Kemudian, 100% lebih efektif dibanding minum secangkir teh. Atau dibanding aktivitas berjalan kaki untuk mengurangi stres, membaca buku lebih ampuh 300%. Selain itu, 700% lebih baik daripada bermain permainan video.

Saat ini sudah ada metode penyembuhan stres bahkan depresi dengan membaca buku. Metode ini dikenal sebagai Bibiliotrapi. Peraktik bibliotrapi secara medis modern dimulai pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1802. Benjamin Rush, bapak psikiatri Amerika Serikat, adalah orang pertama yang merekomendasikan dan mempraktikan metode biblioterapi.

Hal tersebut dibahas oleh Debbie McCulliss pada jurnalnya di Journal of Poetry Therapy dengan judul “Bibliotherapy: Historical and Research Perspectives”, yang terbit pada 2012 silam. Banyak negara terutama dengan pengguna obat antidepresan yang tinggi sudah menerapkan metode bibliotrapi pada institus layanan kesehatan mereka. Inggris salah satunya, melalui National Health Service.

Apakah teman-teman pernah menangis karena membaca sebuah buku? Saya pernah, ketika membaca Tetralogi Pulau Buru yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Pada bagian “Anak Semua Bangsa”, setelah bagian “Bumi Manusia” yang difilmkan dan akan tayang di bioskop pekan ini. Menurut beberapa penelitian hal tersebut lumrah.

Menangis karena membaca bisa disebut sebagai katarsis diri. Seolah-olah kita ada dalam tengah cerita dalam buku yang kita baca. Merasakan apa yang sedang dihadapi oleh karakter dalam cerita. Tidak hanya menangis, bahagia atau tertawa juga bisa kita rasakan ketika menghayati setiap buku.

Di Indonesia hal tersebut sudah ada yang melakukan penelitian, bahkan ada beberapa rumah sakit yang sudah mempraktikannya. Salah satunya adalah Herlina, Dosen Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Judul penelitiannya soal hal tersebut adalah “Biblioterapi Sebagai ‘Curative Cure’ di Rumah Sakit” terbit pada 2015 silam.

Herlina dalam penelitian tersebut menyebutkan, bahwa “Membaca tentang sebuah karakter dalam fiksi yang mengatasi masalah yang mirip dengan masalah yang dihadapinya menjadikan pasien/klien terbantu mengungkapkan secara lisan perasaannya tentang masalah yang ia hadapi kepada terapis.”

Biblioterapi lebih banyak menggunakan buku fiksi, lantaran meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempertajam intuisi, berempati, dan memudahkan berefleksi. Bukan berarti menihilkan buku non-fiksi. Buku non-fiksi seperti biografi tokoh juga cukup membantu. Bahkan jika yang dibaca biografi tokoh yang diidolakan.

Namun menurut Herlina, orang yang tidak memiliki minat membaca akan sulit menerapkan metode ini. Selain itu, metode bibliotrapi juga bukan metode utama dalam proses penyembuhan depresi, melainkan metode pendukung.

Terlepas dari itu, menurut banyak penelitian, aktivitas membaca positif terhadap masalah kesehatan mental. Misalnya dari Rush University Medical Centre di Chicago menyebutkan  jika membaca dapat memperlambat Demensia dan Alzheimer. Kemudian penelitian dari Universtas Sussex, menyebutkan jika 6 menit membaca sebelum tidur dapat secara signifikan membuat rileks tubuh dan pikiran. Sehingga mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur. Selanjutnya ada penelitian dari Yale University School of Public Health menemukan bahwa membaca menambah konektivitas di antara sel otak yang memperkecil risiko penyakit neurodegeneratif yang memperpendek umur.

Dari banyak hasil penelitian di atas kita jadi tahu bahwa membaca buku tidak hanya aktivitas menambah atau mencari pengetahuan baru. Jadi, yuk luangkan waktu untuk baca buku!

Penulis: Triyo Handoko
Editor: Elga Theresia

Desainwebku