woman kiss a baby while taking picture

            Tanggal 22 Desember kemarin kita baru aja merayakan hari ibu, biasanya perayaan seperti apa sih yang kalian buat sama ibu kalian?

Nah, untuk memperingati hari ibu (yang udah lewat hehe) kita bahas yuk tentang perjuangan ibu setelah melahirkan.

Bulan Oktober lalu sempat muncul berita seorang ibu membunuh balita berusia 2 tahun yang merupakan anaknya sendiri di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Selain itu ada banyak banget kasus dimana ibu membunuh bayi-nya sendiri di berita, dan setelah di amati dengan seksama (cie elah) komentar warganet biasanya langsung menyalahkan ibu yang dinyatakan sebagai tersangka. Tapi tahukah kita bahwa ibu yang baru melahirkan rentan mengalami depresi pasca melahirkan atau biasa di sebut Post Partum Depression? Wahhh apaan tuh?

Di awal kehadiran bayi, ibu-ibu rentan mengalami baby blues setelah melahirkan, biasanya mereka merasakan mood swing, kecemasan dan kesulitan tidur karena penyesuaian dengan peran baru mereka. Post partum lebih rentan dialami oleh ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Selain itu menurut penelitian yang di lakukan oleh Okun, Mancuso, et-al (2018) menunjukkan bahwa kualitas tidur yang rendah memiliki hubungan signifikan terhadap gejala kecemasan dan depresi. Nah, sebelum membahas mengenai post partum depression, di awal aku udah mention mengenai baby blues. Bedanya apa sih?

Baby blues adalah sindrom yang di rasakan ibu pasca melahirkan namun intensitas gejalanya hanya berlangsung selama satu sampai dua minggu. Gejalanya bisa berupa perubahan mood, kecemasan, perasaan sedih dan terganggu, merasa overwhelmed, menangis, hilang konsentrasi dan sulit tidur. Nah, kalau post partum gejala dan intensitasnya lebih sering dan intens di bandingkan baby blues, gejalanya biasanya muncul di minggu-minggu pertama pasca melahirkan atau selama kehamilan, bahkan ada juga loh yang merasakan ini setahun setelah melahirkan.

Terus gejalanya apa aja sih?

  • Mood swing
  • Menangis terus menerus
  • Kesulitan membangun hubungan dengan bayinya
  • Menarik diri dari keluarga dan teman
  • Makan berlebihan, atau kehilangan nafsu makan
  • Merasakan kelelahan dan kehilangan energy
  • Merasakan kemarahan dan perasaan terganggu yang intens
  • Merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik, tidak pantas, perasaan bersalah.
  • Tidak mampu berpikir kritis dan membuat keputusan
  • Muncul pikiran untuk melukai diri sendiri dan bayinya.

Emangnya kenapa sih kita bisa mengalami Postpartum Depresiion?

Ada beberapa hal yang meningkatkan resiko kalian mengalami postpartum depression, diantaranya: punya riwayat depresi sebelumnya, memiliki gangguan bipolar, ada keluarga yang juga pernah mengalami depresi dan gangguan mood lain, bayi yang di lahirkan memiliki penyakit atau kebutuhan khusus, punya bayi kembar, ada masalah ketika menyusui, masalah financial, dan support system yang lemah. Support system bisa termasuk didalamnya keluarga, teman, dan suami. Nah, makanya itu guys ketika kalian mengunjungi orang yang baru melahirkan, usahakan bicara yang baik mengenai ibu dan bayi nya ya. Supaya si ibu tidak mengalami perasaan stress atau tertekan.

Kalau kita mengalami hal tersebut, apa yang harus kita lakukan ya?

Ketika kalian merasakan gejala yang sudah di sebutkan di atas, gejalanya berlangsung lebih dari dua minggu dan semakin mengganggu kalian dalam menjalani aktivitas sehari-hari khususnya ketika kalian merawat bayi, maka kalian harus segera menemui dokter/psikolog/psikiater, ceritakan pada mereka perasaan yang kalian alami setelah memiliki bayi.

Kalau yang mengalami itu orang lain gimana?

Berikan dukungan moral kepada mereka, yakinkan bahwa mereka bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Selain itu, kalau anggota keluarga kalian yang mengalami, kalian bisa loh menawarkan bantuan untuk menjaga bayi mereka supaya mereka nggak kelelahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zhang&Jin (2014) menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat membantu ibu bisa membantu mereka melewati masa postpartum depression loh. Kalau membantu menjaga bayi terasa berat, hal yang paling mudah untuk di lakukan adalah dengan tidak membandingkan kemampuan ibu dengan ibu lain, misalnya dengan tidak mengatakan “kok ASI nya sedikit sih”, atau mengomentari fisik bayi yang baru lahir dengan bilang “Ih bayi nya kurus ya”. Yuk kurangi nyinyir ke ibu baru melahirkan, karena beban emosi mereka juga sudah berat loh.

Serta jangan lupa untuk tetap mengajak mereka mencari bantuan professional ya kalau kalian sudah melihat munculnya gejala postpartum depression tersebut.

Penulis : niken mawar

Sumber

https://www.suara.com/news/2019/10/21/132628/ibu-bunuh-anak-kandung-di-jakbar-putri-sempat-hapus-jejak-pembunuhan

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/symptoms-causes/syc-20376617

Okun, M. L., Mancuso, R. A., Hobel, C. J., Schetter, C. D., & Coussons-Read, M. (2018). Poor sleep quality increases symptoms of depression and anxiety in postpartum women. Journal of Behavioral Medicine. doi:10.1007/s10865-018-9950-7

Zhang, Y., & Jin, S. (2014). The impact of social support on postpartum depression: The mediator role of self-efficacy. Journal of Health Psychology, 21(5), 720–726. doi:10.1177/1359105314536454

Desainwebku