Posesif = Sayang?

Mungkin kita sering dengar teman kita ngeluh “aduh pacar gue posesif banget deh, masa mau main aja nggak dibolehin” tapi kalian tahu nggak posesif itu sikap yang seperti apa?

Posesif adalah keinginan untuk mengontrol dan mendominasi seseorang, orang yang posesif biasanya akan membatasi hubungan, interaksi atau bahkan ruang gerak kita sama orang lain. Mungkin posesifitas ini lebih familiar di kalangan kita karena bagi sebagian orang diposesifin adalah tanda kalau pasangan sayang sama kita. Tapi masa iya sih? Sebelum membicarakan apakah posesif adalah tanda sayang, kita bahas kenapa seseorang bisa posesif dulu yuk.

Perasaan posesif muncul dari rasa cemburu, merasa nggak pantas dan ketakutan akan ditinggalkan. Posesifitas ini seringkali muncul pada orang yang punya pola anxious attachment. Apaan lagi tuh? Teori mengenai pola kelekatan (attachment theory) pertama kali diperkenalkan oleh John Bolwby, menurut teori ini pola kelekatan kita dengan orangtua/significant others kita akan menentukan pola kelekatan kita pada pasangan ketika kita dewasa. Pola kelekatan ini akan terus mempengaruhi bagaimana kita menjalin hubungan, membentuk ekspektasi serta pasangan seperti apa yang akan kita pilih ketika kita dewasa.

Anxious Attachment

Pola kelekatan anxious attachment bisa muncul ketika anak memiliki orangtua yang tidak konsisten memperlakukan mereka, di satu waktu mereka gagal memahami bagaimana memenuhi kebutuhan anaknya, tidak available secara fisik dan emosional, tapi dilain waktu mereka responsif dan mengerti kebutuhan anaknya. Sikap seperti ini akan membentuk kepribadian anak menjadi orang yang tidak mudah percaya dan insecure kepada orangtuanya.

Pola kelekatan ini kemudian termanifestasi dan kebawa sampe mereka dewasa, ketika seorang anak punya pola kelekatan anxious mereka akan tumbuh jadi pribadi yang suka mengkritik diri sendiri dan insecure. Mereka selalu mencari penerimaan dari orang lain, takut akan penolakan dan kemudian perasaan inilah yang menimbulkan munculnya sikap posesif dalam diri mereka. Shave dan Clark pada penelitian mereka tahun 1994 menyatakan bahwa pasangan yang anxious cenderung marah ketika pasangan tidak memberikan perhatian dan kepastian seperti yang mereka rasa mereka butuhkan. Sehingga menimbulkan perasaan perlu mendramatisir kecemasan dan kemarahan mereka.

Terus gimana dong kalo kita adalah pasangan yang posesif?

  1. Terima kenyataan bahwa kamu adalah pasangan yang posesif

Loh kok gitu? Iya dong. Dengan menerima bahwa kamu posesif terhadap pasangan maka kamu akan lebih menerima diri kamu sendiri, memahami bahwa perasaan insecure yang muncul dalam diri kamu itu disebabkan oleh kecemasan kamu sendiri, bukan pasangan. Sehingga kamu akan lebih punya control diri terhadap seberapa jauh kamu bisa mengatur pasangan kamu.

  1. Temukan hal baik dalam diri kamu

            Perasaan posesif muncul karena adanya perasaan insecure, serta rendahnya penghargaan diri sehingga kita terus menerus mencari approval dari orang lain dan perasaan takut bahwa pasangan kita bisa aja menolak atau bahkan meninggalkan kita. Untuk membuat perasaan insecure itu berkurang, kamu bisa mulai mencari hal baik yang ada dalam diri kamu, sehingga kamu nggak ngerasa bahwa kamu sepenuhnya buruk. Belajarlah cara mencintai diri kamu sendiri dan mengatakan bahwa “you’re enough”

  1. Komunikasi dengan pasangan

            Langkah terakhir yang perlu kamu lakukan adalah berkomunikasi dengan pasangan. Komunikasikan perasaan insecure seperti apa yang muncul ketika mereka tidak membalas pesan kamu, misalnya. Katakan kepada pasangan keresahan apa yang kamu miliki. Komunikasi yang terbuka memungkinkan pasangan memahami dan merasakan apa yang kamu rasakan dengan lebih baik, berkomunikasi ya bukan menyalahkan atau bahkan memberikan perlakuan ‘menghukum’ pasangan seperti misalnya mendiamkan dia dan menolak bicara seharian.

Lalu kalau pasangan kita adalah orang yang posesif, apa yang harus kita lakukan ya? 

4. Komunikasikan pada pasangan

Berkomunikasi dengan pasangan alasan kenapa dia posesif ke kamu, apakah karena dia tidak percaya diri atau dia punya ketakutan yang berasal dari hubungan dia sebelumnya, atau kamu juga bisa menanyakan bagaimana pola hubungan pasangan kamu dengan orangtua nya, mungkin saja pasangan kamu adalah anak yang memiliki pola attachment anxious seperti yang sudah dibahas di awal. Komunikasikan juga bahwa perlakuan yang dia berikan membuat kamu tidak nyaman, tentunya dengan cara yang baik dan tidak terkesan menyalahkan

5. Tunjukkan perasaan sayang kamu 

Menunjukkan kasih sayang bisa membantu pasangan kamu merasa lebih dicintai, hal ini bisa juga membantu dia untuk menemukan kembali kepercayaan dirinya. Tunjukkan pada pasangan bahwa kamu juga berkomitmen pada hubungan yang sedang kalian jalani.

6. Ajak pasangan kamu ikut terlibat dalam kegiatan kamu 

Mengajak pasangan ikut nongkrong bareng teman-teman kamu mungkin bisa membantu dia merasa lebih secure dan mempercayai kamu

Penulis: Niken Mawar

Editor: Elga Theresia

Sumber

https://www.psychalive.org/understanding-ambivalent-anxious-attachment/

https://www.psychalive.org/what-is-your-attachment-style/

https://www.psychologytoday.com/us/blog/compassion-matters/201702/be-mine-dealing-possessiveness-in-relationship

https://themindsjournal.com/deal-with-a-possessive-partner/ 

Desainwebku