Mencintai diri sendiri berbeda dengan egois. Hal ini sering disalahpahami oleh banyak orang. Mencintai diri sendiri adalah penerimaan dan penghargaan atas semua hal yang terkait dengan diri kita sendiri baik fisik, pikiran dan hati oleh diri kita sendiri.

Hal ini penting karena tanpa penerimaan dan penghargaan diri, kita akan selalu merasa kurang terhadap diri sendiri. Sehingga kita tidak adil dengan diri kita sendiri. Akibatnya bisa banyak hal, dari stres hingga depresi. Sedangkan egois adalah sikap dimana kita hanya mementingkan diri kita sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Berikut beberapa permasalahan yang jamak dialami siapapun karena kurang mencintai dirinya sendiri, serta bagaimana mengatasi hal tersebut:

1. Membenci Diri Sendiri

Kondisi akut yang menjangkiti siapapun yang kurang mencintai diri sendiri adalah membenci dirinya sendiri. Tidak bisa menerima keadaan diri sendiri, terutama karena kekurangannya, membawa seseorang frustasi dengan dirinya sendiri. Biasanya diawali dengan marah terhadap diri sendiri. Bila hal ini tidak terselesaikan akibatnya adalah sikap membenci diri sendiri. Hal ini tentu bisa membawa seseorang pada gangguan kesehatan mentalnya. Depresi adalah salah satu hal yang jamak dialami seseorang yang menyimpan kebencian pada dirinya sendiri.

Hal ini bisa diselsaikan dengan berdialog dengan diri sendiri. Cara dialognya pun lain. Seseorang yang membenci dirinya sendiri cendrung berdialog tentang kekurangannya terus-menerus dengan dirinya sendiri. Cobalah berdialog dengan diri sendiri soal kelebihan yang dimiliki. Jangan selalu soal kekurangan diri sendiri.

Pada beberapa hal mendasar dimana sifatnya terberi. Sehingga tidak bisa menolak atau mengubahnya, misalnya: terlahir dari keluarga seperti apa atau melakukan kesalahan fatal di masa lalu. Cobalah menerima hal tersebut, sulit mungkin. Namun, bagaimana lagi hal tersebut tidak bisa dirubah. Kita semua tidak dapat memilih, misalnya akan lahir dari keluarga seperti apa. Coba cek lagi apakah yang tidak bisa kita terima dari diri kita, bisa dirubah.

2. Terobsesi untuk Selalu Sempurna

Perfeksionisme adalah sikap yang selalu menuntut kesempurnaan total pada setiap pencapaian. Tidak ada toleransi untuk sekecil apapun kekurangan atau kesalahan. Secara langsung sikap ini membawa sifat beracun bagi mereka yang secara sadar atau tidak mempercayai dan mempraktikannya. Ketidakberterimaan atas kekurangan dan kesalahan sekecil apapun ini menjadi tanda bahwa seseorang kurang mencintai dirinya sendiri. Akibatnya rentan sekali seseorang yang perfeksionis mengalami gangguan kesehatan mental.

Cara untuk menyudahi sikap perfeksionis adalah menyadari bahwa pencapaian adalah sebuah proses. Sehingga implikasinya adalah tidak semua proses berjalan dengan baik. Lantran dalam proses yang baik membutuhkan bahan pembelajaran untuk bahan evaluasi memperbaiki proses di kemudian hari. Bahan pembelajaran ini bisa berupa kesalahan, kukurangan, atau tantangan. Memahami hal tersebut membantu seseorang perfeksionis untuk toleransi terhadap setiap kekurangan atau kesalahan yang mungkin ditemui.

3. Terlalu Sensitif terhadap Kritik

Tidak bisa menerima kritik dari orang lain terhadap diri kita, sama sekali bukan tanda mencintai diri sendiri. Justru sebliknya, hal tersebut adalah tanda bahwa seseorang kurang mencintai diri sendiri. Terlalu sensitif terhadap kritik bisa terlihat dengan sikap yang ditunjukan ketika menerima kritik, marah misalnya. Padahal kritik orang lain terhadap diri kita semestinya ditanggapi dengan tenang. Tidak harus diterima, bisa kita tolak. Namun perlu untuk kita apresiasi kritik tersebut.

Cara mengatasi terlalu sensitif terhadap kritik bisa kita lakukan dengan mempertimbangkan apa yang menjadi substansi krtik. Sebelum menerima atau menolaknya. Tidak tergesa-gesa untuk bereaksi terhadap kritik tersebut. Jika ada kebenaran di dalam kritik untuk kita tersebut, penting kemudian untuk tidak langsung menghakimi diri sendiri. Begitu juga ketika substansi dari kritik tidak sesuai dengan konteks atau nilai-nilai yang kita pegang. Namun percayalah kritik orang lain untuk diri kita adalah bentuk apresiasi terhadap diri kita.

4. Menyenangkan Orang Lain Mengabaikan Diri Sendiri

Yes-men adalah istilah untuk orang yang selalu mengiyakan apa yang menjadi keinginan orang lain. Penyebabnya bisa karena sungkan, perasaan terlalu inferior, atau yang lain. Namun hal tersebut merupakan tanda bahwa seseorang kurang mencintai diri sendiri. Ketika orang yang selalu berorientasi menyanangkan orang lain, kemungkinan ia akan mengabaikan dirinya sendiri cukup besar. Mungkin saja keinginan orang lain adalah hal yang paling dihindari, namun karena tidak bisa menolak, seseorang terpaksa melakukannya. Hal ini tentu perlu ditanggulangi. Supaya tidak menganggu kesehatan mental.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merubah hal tersebut adalah dengan belajar untuk berkata tidak. Tidak semua penilaiaan orang lain terhadap diri kita benar dan utama. Penilaiaan terhadap diri sendiri juga amat lah penting. Hal lain yang penting dipahami adalah orang dengan apresiasi diri dan kesehatan mental yang baik tahu kapan untuk memprioritaskan diri mereka sendiri. Cobalah untuk melakukannya. Yuk mulai menyayangi diri sendiri!

Penulis: Triyo Handoko
Editor: Elga T.

Refrensi:

  1. https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/wellbeing/a25866/how-to-overcome-low-self-esteem/
  2. https://medium.com/@danit712/why-you-should-learn-to-love-yourself-and-7-steps-to-healthy-self-love-53e665be5d81
  3. https://www.psychalive.org/low-self-esteem/
Desainwebku