Kaum millenials dan Gen Y atau yang bisa disebut anak-anak muda zaman sudah pasti mengenal sosial media, baik itu Instagram, Twitter maupun Facebook. Hampir semua kejadian, kegiatan maupun opini muncul melalui unggahan dan cuitan/tweet. Di era sekarang ini, sangat sulit menemukan kaum muda yang tidak terikat pada ponselnya masing-masing. Studi mengatakan hampir setiap orang mengecek ponselnya sebanyak 28 kali sehari. Berarti sekitar 1 kali setiap jam… dan mungkin lebih dari 10 ribu kali setahun. Wow! Siapa yang selalu memotret makanannya sebelum dimakan? Atau ketika ada suatu kejadian, langsung merekam dan membagikannya ke sosial media? Pastinya banyak orang, mungkin termasuk kamu!

Mungkin sebagian kalian sadar berapa lama waktu yang sudah kalian habiskan untuk scrolling linimasa Instagram kalian? Atau seberapa banyak Instagram story yang kalian tonton? Mulai dari kegiatan harian para influencer, acara liburan, acara memasak, atau tutorial lainnya.

Walaupun sosial media memiliki manfaat bagi penggunanya, menggunakan sosial media terlalu lama dapat membuatmu merasa tidak bahagia dan terisolasi dalam jangka panjang. Mau tahu kenapa? Yuk mari simak beberapa pengaruh buruk sosial media bagi kesehatan mental kita!

1. Menurunkan self-esteem

Pernah merasa diri kurang percaya diri karena standar kecantikan yang ditetapkan oleh media? Melihat foto-foto yang terkesan “perfect” di Instagram dengan berbagai macam filter, juga tidak membantu. Sebagai manusia, kita pasti tidak sempurna. Kebanyakan dari kita memiliki berbagai macam insecurity yang kadang kita bicarakan maupun yang kita simpan sendiri. Namun, membandingkan diri sendiri dengan orang di sosial media dapat membuat kita merasa buruk.

Ingatlah bahwa hidup para selebgram atau influencers tidak seindah dan semudah yang kalian bayangkan. Yang ditampilkan kepada kalian adalah kesuksesan dan kebahagiaan mereka. Karena tidak semua orang mampu menayangkan kegagalan dan kesedihan mereka secara terbuka.

2. Kurangnya koneksi dan hubungan personal

Sebagai manusia, hubungan ataupun kontak dengan manusia lain sangat penting untuk diciptakan. Karena pada dasarnya, kita adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup.

Terkadang, orang terlalu sibuk dengan dunia digitalnya sampai-sampai mereka melupakan dunia nyata. Mereka terdistraksi dan berusaha membangun hubungan dengan teman online, sehingga terkadang menghiraukan teman di dunia nyata. Hal ini dapat menyebabkan para kaum muda sulit untuk membangun empati dan koneksi yang tepat. Jadi, saat kamu dan teman-temanmu nongkrong di suatu tempat, coba untuk tidak sibuk dengan ponsel masing-masing ya guys

3. Momen terlewatkan

Sosial media dapat menjadi tempat yang baik untuk menyimpan segala memori, baik dalam bentuk foto maupun video. Namun terkadang, hal itu dapat menyebabkan kamu tidak menikmati momen sesungguhnya, hanya karena mencoba mendapat foto yang sempurna supaya mendapat banyak likes di Instagram.

4. Mengurangi jam tidur

Siapa dari kalian yang suka mengorbankan waktu tidur demi membaca sejumlah tweets? Atau sekedar melihat-lihat post di facebook? Terdapat studi yang mengatakan menggunakan ponsel selama 30 menit sebelum tidur akan membuat kita sulit tidur karena cahaya biru yang dihasilkan layar ponsel.

Mulai sekarang, coba batasi diri untuk tidak menggunakan ponsel selama 40 menit atau 1 jam sebelum tidur, dan lihat apakah kualitas tidur kalian menjadi lebih baik, guys!

5. Membuat kita menjadi kurang fokus

Bukan hanya alam bawah sadar di dalam pikiran yang harus kita cemaskan, tapi juga kemampuan pikiran kita untuk fokus ketika kita terjaga. Walaupun pertukaran informasi dan berita ter-update dapat kita ketahui, thanks to social media, tapi kita menjadi lebih mudah terdistraksi dan kurang fokus.

6. Mempengaruhi rasa cemas atau depresi

Bukan hanya sosial media terbukti membuat orang menjadi tidak bahagia, tapi sosmed juga dapat menyebabkan rasa cemas atau depresi. Pada bulan Maret 2018, 41% dari 1000 orang menyatakan sosial media membuat mereka cemas, sedih, depresi bahkan gangguan makan.

 

Facebook Depression

Orang-orang menjadi terobsesi dengan jumlah “likes” yang mereka dapatkan dan membuat mereka mengambil pilihan yang tak akan mereka ambil, seperti mengubah penampilan, mengikuti perilaku buruk seperti challenge di sosial media yang berbahaya. Hal ini dapat membuat mereka merasa cemas setiap saat ketika tidak ada yang memberikan like atau jumlah like mereka sedikit. Hal tersebut dikenal sebagai “Facebook depression”. Sebuah istilah untuk mengambarkan depresi yang terbentuk di kalangan kaum muda akibat menghabiskan waktu yang lama di sosial media dan mulai menunjukan karakteristik depresi.

Belum lagi resiko cyberbullying yang harus dihadapi. Komentar-komentar orang tak dikenal yang tidak bertanggungjawab kadang dapat membuat orang merasa down, sampai-sampai memiliki pikiran buruk lainnya.

Sementara untuk orang-orang yang lebih dapat menyesuaikan diri, efek sosial media dapat menjadi sebaliknya. Hal ini dikarenakan mereka akan membangun gambaran positif tentang diri sendiri dan hanya akan membuat post yang mempromosikan atribut dan kualitas terbaik dari dalam diri mereka. Mereka dapat memilih apa yang akan mereka tunjukan dari diri mereka, dan meminimalisir gambaran negatif tentang diri mereka.

Untuk orang-orang yang tidak atau kurang dapat menyesuaikan diri, hal ini dapat membuat mereka merasa buruk. Jadi, jika kalian mulai merasa memiliki pikiran buruk, atau membuka sosial media membuat kalian merasa stres, cobalah melakukan hiatus dari sosial media untuk beberapa waktu, atau yang dikenal juga dengan digital detox.

Walaupun kalian tidak harus menghapus semua sosial media kalian, bagaimana kalau mencoba untuk mengalokasikan waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat seperti berolahraga ataupun membaca buku? Perubahan kecil pun dapat membawa dampak yang lebih bagus.

Penulis: Aileen Velishya

Desainwebku