Kita pasti punya setidaknya satu orang teman yang suka merendah untuk meroket di media sosial, atau bahkan di real life nya. Atau kita sendiri jangan-jangan termasuk salah satu dari para humblebragger itu? Gue sendiri cukup sering menemukan orang-orang yang suka humblebragging di sosial media. 

Emang humble bragging alias merendah untuk meroket tuh yang kayak gimana sih? 

Misalnya postingan I woke up like this dengan muka fresh, dan rambut yang udah rapi. Sounds familiar? Atau posting foto dengan caption “aduh gendutan” padahal badannya kayak model Victoria’s Secrets yang body goals abis dan sama sekali nggak gendut hanya untuk menuai pujian dari orang lain.

Humblebragging menurut Jeremy Dean (2018) adalah fenomena yang umum karena individu mau menunjukkan achievement mereka tapi nggak mau terlihat bahwa mereka sedang pamer, beberapa penelitian bahkan bilang bahwa humblebragging yang paling mengganggu adalah ketika sifatnya sudah merendahkan orang lain. Misalnya nih “kenapa sih orang-orang tuh suka minta gue jadi pacarnya?” ugh. 

Terus kira-kira kenapa ya orang melakukan humblebragging? 

Humblebragging dianggap sebagai salah satu strategi merepresentasikan diri (self representation) di sosial media. Merepresentasikan diri adalah usaha untuk menampilkan diri kita melalui sosial media untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain. Nah representasi diri ini berkaitan dengan management impresi di media sosial . Manajemen impresi itu apa lagi? Well, bahasa gampangnya sih strategi supaya orang lain punya first impression yang baik ke kita.

Kalau di interaksi face to face biasanya kita menggunakan bahasa verbal dan tampilan visual yang baik, nah di dunia online cara kita membuat impresi baik adalah dengan membuat postingan sosial media yang sekiranya dianggap positif dan mendapatkan persetujuan dari orang lain (acquisitive self presentation), atau menghindari ketidaksetujuan orang lain dengan menampilkan diri kita yang ‘terlihat netral dan sederhana’ (protective self presentation).

Menurut studi yang diadakan oleh Harvard Business School humblebragging dianggap sebagai strategi representasi diri yang berguna karena membantu mereka mempromosikan diri secara halus dengan segala hal yang mereka miliki, misalnya kecerdasan, kecantikan dan kekayaan dan membungkusnya hingga tampak lebih sederhana dan approachable  bagi orang lain. 

Sebenernya efektif nggak sih melakukan humblebragging di media sosial ? 

Penelitian menunjukkan bahwa melakukan humblebragging adalah cara yang kurang efektif daripada langsung mengeluh, dan pamer karena seenggaknya melakukan komplain secara langsung dianggap lebih tulus daripada membungkusnya dengan cara humblebragging. Dr. Dean (2018) bahkan mengkonfirmasi hal ini melalui penelitiannya tentang sosial media, bahwa orang cenderung lebih mudah menganggap para humblebragger lebih buruk. 

Terus gimana caranya menampilkan representasi yang baik tanpa jadi humblebragger ? 

Hal-hal yang bisa kamu lakukan kalau mau tetap menunjukkan representasi diri yang baik tanpa pamer adalah : 

  • Mengekspresikan rasa syukur yang tulus dalam pernyataan kamu 

Misalnya nih, kamu seneng banget karena habis direkrut perusahaan besar dan langsung dapet posisi yang lebih baik setelah di PHK, kamu bisa bilang “I am so gratefull of my accomplishment´ daripada bilang “just got new job and better position, I don’t deserve this” 

  • Memikirkan reaksi orang lain 

Pikirkan apakah postingan kamu pantas untuk diunggah saat itu? Misalnya teman kamu baru aja kehilangan uang, kamu mungkin harus berpikir 2x untuk pamer tentang kenaikan gaji kamu.

  • Tunjukkan pencapaian kamu 

Daripada repot-repot humble bragging supaya kamu diakui orang lain, kenapa nggak tunjukkan karya kamu aja dan biarkan orang lain memuji dengan sendirinya? Misalnya kamu adalah orang yang mahir dalam fotografi, kamu bisa langsung mengunggah hasil jepretan kamu dan nggak perlu ditambahi caption yang bernada humblebragging. 

  • Tekankan pada aspek kerja keras-nya 

Kalau kamu baru dapet reward dari kantor, kamu bisa berbagi tentang hal-hal apa saja yang kamu lakukan untuk mendapatkan reward tersebut, tunjukkan ke orang lain perjalanan kamu mencapai prestasi itu, makes people feel motivated instead of being jealous. 

Penulis: Niken Mawar
Editor: Elga T.

Sumber 

https://www.psychologytoday.com/us/blog/fulfillment-any-age/201803/why-people-hate-humblebragging

https://www.quora.com/What-is-the-psychology-behind-humblebragging

Atril, Allison. 2015. The Manipulationof Online Self-Presentation: Create,Edit, Re-edit and Present. Palgrave Macmillan : Hampshire

Desainwebku