Capek, stres? Ada masalah kerjaan, di kampus atau keluarga? Semua orang pernah merasakan tekanan.

Terkadang tekanan itu begitu berat sampai-sampai kita, terutama jika memiliki masalah kesehatan mental, merasa tidak bisa berfungsi. Mungkin rasanya  ingin teriak “Stoooopppp!!!! Aaaaaaaa!” Lalu, apa yang biasanya dilakukan? Demi mendapat break dari rutinitas (belajar/kerja), tidak sedikit orang yang harus berbohong kalau mereka sakit (fisiknya).

Absen demi Kesehatan Mental

Di Amerika Serikat, negara bagian Utah dan Oregon mengakui ”Mental Health Day” atau hari untuk merawat mental untuk para pelajar.  Di Oregon, para pelajar mendapat 5 Mental Health Days dalam periode 3 bulan. Peraturan ini diajukan oleh sekelompok pelajar dan efektif sejak 1 Juli 2019. Utah memasukkan kesehatan mental ke dalam definisi alasan valid untuk absen dari sekolah.

Terdapat manfaat dari pengesahkan peraturan tentang “Mental Health Day” ini, walaupun tanpa disebut sebagai Mental Health Day kita pun bisa saja absen.

Jennifer Rothman, Manager Senior untuk Inisiatif Pemuda dan Dewasa Muda National Alliance on Mental Illness, mengatakan bahwa anak-anak yang “diam-diam” mengalami gejala gangguan mental dapat tertolong.

“Kita memiliki banyak anak yang menghadapi ini secara diam-diam karena mereka malu atau berpikir bahwa orang lain akan menghakimi dan tidak mempercayai mereka”, Rothman menjelaskan kepada The New York Times. Dr. Michelle B. Riba dari University of Michigan juga mengungkapkan hal senada. Dengan istilah Mental Health Day, kita tidak perlu berbohong dan merasa bersalah mengambil “break”.

Mengapa Perlu Mental Health Day dan Cara Efektif Memanfaatkannya

Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Saat ini kita memang belum memiliki kebijakan tentang Mental Health Day Numan, sudah saatnya kita lebih terbuka tentang kesehatan mental. Sebanyak 5 persen pelajar dari SMAN dan SMKN terakreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri. Temuan ini didapat oleh psikiater dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dan tim setelah menyurvei 910 pelajar. Keadaan ini mengharuskan semua pihak untuk lebih memperhatikan kesehatan mental. Mental Health Day dapat menghapuskan stigma yang meliputi masalah kesehatan mental.

Selain mengurangi stigma, Mental Health Day dapat digunakan untuk pemulihan. Istilahnya “to get back on track”. Berikut ini contoh saatnya kamu perlu Mental Health Day:

1. Setelah kehilangan orang yang kita sayangi.

2. Ada anggota keluarga yang sakit keras.

3. Kamu sudah lama mengabaikan self-care. Baterai saja butuh di-charge, kamu juga lho!

4. Kamu butuh menemui tenaga profesional (psikolog/psikiater) untuk menangani kesehatan mental.Ingat, Mental Health Day tidak selalu harus dikaitkan dengan konsumsi (maraton Netflix, dll.). Fokuslah untuk mengidentifikasi perasaanmu dan akar dari permasalahanmu. Banyaknya Mental Health Day yang diperlukan tergantung pada kebutuhan, isu yang dihadapi dan rutinitas sehari-hari kamu

Tanda-tanda Mental Health Day “Keblab-blasan”

Mengambil Mental Health Day ketika memang dibutuhkan tentu tidak bermasalah. Namun, akan menjadi bermasalah ketika terlalu sering sebab kamu mungkin akan melewati deadline dan membebani orang lain. Sebelum memutuskan jika kita butuh Mental Health Day, perlu dipertimbangkan masalah mental yang kita miliki dan bagaimana kita akan memanfaatkan Mental Health Day.

Kalau kamu depresi atau mengalami anxiety, menghabiskan waktu di tempat tidur kemungkinan besar tidak akan membuat keadaanmu lebih baik. Masalah tersebut bukanlah stresor sementara, melainkan isu yang bergulir dalam jangka waktu yang berkepanjangan dan membutuhkan bantuan tenaga profesional untuk menanganinya.

Bagaimana pendapat kamu tentang Mental Health Day? Apa yang biasanya kamu lakukan supaya bisa “on the track” lagi?

Penulis: Elga T.

Desainwebku