Klien atau rekan yang tidak mengerti beban kerja, ekspektasi hasil yang tidak realistis dan atau tidak sesuai dengan bayaran, serta kecemasan terhadap perkembangan karir adalah masalah-masalah klasik yang dialami oleh mereka yang bekerja di bidang media dan kreatif. Atau mungkin, kamu bekerja di bidang media dan kreatif serta mengalami hal-hal tersebut? Jika ya, SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi) dalam Work Life Balance Talk berusaha mengupas segala hal terkait masalah-masalah psikologis pekerja media dan kreatif dalam Work Life Balance (WLB) Talk.

WLB Talk adalah bagian dari rangkaian Work Life Balance Fest 2019 yang diadakan oleh SINDIKASI pada tanggal 9 Februari 2019 di CoHive D.Lab, Jakarta. WLB Talk sendiri diadakan oleh SINDIKASI untuk memeringati Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional dan menindaklanjuti hasil advokasi SINDIKASI mengenai masalah kesehatan pada WLB Fest 2018 yang kemudian tertuang dalam Permenaker No. 5/2018. Permenaker tersebut memuat faktor psikologis sebagai salah satu indikator kesehatan dan keselamatan kerja.

“WLB Fest 2019 kami harapkan dpaat menjadi ruang dialog antara pekerja-pengusaha-pemerintah-serikat pekerja untuk meningkatkan awareness mengenai kesehatan mental sebagai hak kesehatan dan dan keselamatan kerja (K3) sebagaimana yang telah tertuang dalam Permenaker RI No,5/2018.” ungkap Raisya Maharani, Ketua Panitia Pelaksana WLB Fest 2019, saat dihubungi Sehatmental.id secara pribadi. Raisya juga berharap WLB Fest dapat menjadi wadah diskusi implementasi Permenaker No.5/2018 terkait aspek psikologis sebagai bagian k3 pekerja yang wajib dipenuhi perusahaan/pemberi kerja. Selain itu, mendorong wacana revolusi industri 4.0 yang sejalan dengan perspektif pekerja berkaitan dengan berbagai kepentingan pekerja seperti kebutuhan kerja yang layak, sehat, dan aman juga menjadi harapan diadakannya WLB Fest.

Sebelum WLB Fest berlangsung, SINDIKASI melakukan survei kondisi kerja & kesehatan mental terhadap pekerja media dan kreatif. Hasil survei tersebut kemudian dipaparkan dan dibahas dalam WLB Talk sesi 1 yang bertema “Kerja Waras Bagi Pekerja Lepas”. Selain sesi tersebut, dalam WLB Fest terdapat juga talkshow dengan tema “Bolong-bolong Industri 0.4” yang membahas revolusi industri 4.0 dari sudut pandang pekerja dan art stage yang diisi oleh berbagai penampil kenamaan.

Survei Kondisi Kerja & Kesehatan Mental Terhadap Pekerja Media dan Kreatif

Pada tanggal 15-19 Januari 2019, SINDIKASI melakukan survei kondisi kerja dan kesehatan mental terhadap 100 anggota SINDIKASI yang bekerja dalam industri media dan kreatif. Survei tersebut menggunakan instrumen “Survei Faktor Psikologi Pekerja” yang terdapat pada Permenaker No.5/2018 dengan tujuan untuk mengetahui pola hubungan antara kondisi kerja dan kesehatan mental pekerja. Survei tersebut mengukur derajat stres pekerja.

Survei tersebut memuat 30 pertanyaan mengenai kondisi kerja yang terbagi dalam 6 kategori : ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja kuantitatif, beban kerja kualitatif, perkembangan karir, dan tanggung jawab terhadap orang lain. Responden survei diminta untuk menggambarkan tingkat stres dalam kondisi kerja yang dimaksud setiap pertanyaan menggunakan skor 1-7 dengan 1 untuk tidak menimbulkan stres dan 7 untuk selalu menimbulkan stres. Skor kemudian dihitung per kategori pertanyaan dengan ukuran skor di bawah 9 berarti derajat stres ringan, skor 10-24 berarti derajat stres sedang, dan skor di atas 24 yang berarti derajat stres tinggi.

Hasil survei menunjukkan bahwa 3 kondisi kerja yang paling banyak menimbulkan stres berat pada pekerja media dan kreatif adalah beban kerja kuantitatif (40%), beban kerja kualitatif (33%), dan perkembangan karir (32%).

Secara spesifik, beban kerja kuantitatif yang paling banyak menimbulkan stres terdapat pada pertanyaan kondisi kerja mengenai kurangnya waktu untuk istirahat secara teratur. Dari skala 1-7, responden survei laki-laki memberikan skor derajat stres 4,9 dan responden perempuan memberikan skor 5,13. Dari karakteristik bidang pekerjaan, kebanyakan dari mereka yang memberi skor derajat stres yang tinggi pada kondisi kerja ini adalah mereka yang bekerja dalam bidang e-commerce, arsitektur, dan strategi (termasuk social media strategy). Dari karakteristik status pekerjaan, mereka adalah pekerja harian dengan perjanjian kerja yang jelas dan, mereka yang bekerja dengan status kerja tetap dan kerja lepas sekaligus.

Sedangkan untuk beban kerja kualitatif yang paling banyak menimbulkan stres terdapat pada pertanyaan kondisi kerja mengenai tugas-tugas dalam pekerjaan yang tampak semakin hari semakin kompleks dengan derajat stres 4,5 dan pertanyaan kondisi kerja mengenai tuntutan terhadap mutu pekerjaan yang keterlaluan dengan derajat stres 4,4. Responden yang memberikan skor derajat tinggi untuk kondisi kerja pertama adalah mereka yang bekerja di bidang e-commerce dan IT, sedangkan kondisi kerja yang kedua paling banyak diberikan skor derajat tinggi oleh mereka yang bekerja di bidang e-commerce, desain interior, arsitektur, dan desain komunikasi visual.

Pada kategori perkembangan karir, kondisi kerja yang paling banyak menimbulkan stres berat adalah mengenai kondisi pekerja yang tidak berkembang. Dengan responden pria dan perempuan memberikan skor masing-masing 4,25 dan 4,3. Mereka yang paling banyak memberikan skor derajat stres tinggi adalah mereka yang bekerja dalam bidang e-commerce, HAM & Advokasi, IT, dan DKV. Sedangkan dari karakteristik status pekerjaan, kebanyakan adalah mereka yang berstatus pekerja tetap sekaligus pekerja lepas.

Terpisah dari instrumen survei, SINDIKASI juga memberikan beberapa pertanyaan mengenai hubungan kondisi kerja dengan kesehatan mental. 98% responden menyatakan bahwa keduanya berhubungan, 1% menyatakan tidak berhubungan, dan 1% menyatakan tidak tahu. SINDIKASI juga menanyakan pengetahuan responden mengenai Permenaker No.5/2018. Hasilnya 66% menyatakan bahwa mereka menegtahui keberadaan permenaker tersebut dan 34% menyatakan tidak tahu. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi permenaker tersebut belum baik mengingat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan permenaker tersebut. Terakhir, responden juga diberikan pertanyaan terkait relevansi instrumen “Survei Faktor Psikologi Pekerja” dengan kondisi pekerja media dan kreatif. Sebanyak 65% responden menyatakan bahwa sebagian pertanyaan relevan, 34% menyatakan keseluruhan pertanyaan relevan, dan 1% menyatakan bahwa keseluruhan pertanyaan tidak relevan.

Kerja Waras untuk Pekerja Lepas

Hasil survei kondisi kerja & kesehatan mental terhadap pekerja media dan kreatif tersebut kemudian pada WLB Festival dalam WLB Talk dengan tema “Kerja Waras untuk Pekerja Lepas”. Hasil survei disampaikan oleh Peneliti dan Divisi Riset & Edukasi SINDIKASI, Fathimah Fildzah Izzati. Selain menyampaikan hasil survei, ia juga menyampaikan pendapatnya bahwa standar yang digunakan dalam survei tersebut masih belum seluruh risiko kerja yang dimiliki oleh pekerja, terutama mereka yang bekerja di bidang media dan kreatif. Beberapa risiko tersebut di antaranya adalah kelelahan karena terlalu banyak lembur dan
kekerasan seksual di tempat kerja. Risiko lainnya di luar tempat kerja seperti
kemacetan.

“Pekerja juga harus menghadapi victim blaming, kalau mengeluh banyak kerja dianggap banyak mengeluh, tidak siap kerja, tidak siap dengan risiko pekerjaan. Sehingga mereka memilih tidak melaporkan karena takut disalahkan atau takut kehilangan pekerjaan,” ujarnya.

Selain itu, dalam WLB Talk, Praktisi Kesehatan Mental, dr. Jiemi Ardian menyampaikan bahwa kondisi kerja yang tidak sehat bisa menjadi pencetus stres. Pencetus stres tersebut dapat meningkatkan ambang stres pekerja. “Puncaknya adalah mental breakdown, depresi, dan gangguan kesehatan mental. Untuk mengenalinya cukup dengan melihat apakah ada gangguan tidur,” ungkapnya.

Implementasi K3 Permenaker No.05/2018 sebagai Solusi

Di sisi lain, Kasi Pengawasan Norma Ergonomi dan Lingkungan Kerja Kemenaker, Muhammad Fertiaz mengungkapkan faktor psikologi telah masuk dalam aspek K3 lewat Permenaker Nomor 5 Tahun 2018. Enam standar faktor psikologi dalam aturan tersebut dinilainya merupakan faktor pencetus yang memengaruhi kesehatan mental pekerja.

“Tools yang kita buat hanya mencakup pencetus stres. Dilihat mana dari enam itu yang paling dominan, dilihat tingkat stresnya. Jadi kebijakan pengendalian perusahaan, kalau beban kerja kuantitatif perlu pembagian jobdesk, kalau pencetusnya kualitatif, perusahaan beri pelatihan,” ungkapnya.

Senada, Fathimah Fildza Izzati, merekomendasikan untuk mempertimbangkan risiko-risiko yang memengaruhi kesehatan mental pekerja untuk managemen stres. Selain itu, perlu ada langkah lanjutan baik dalam penanganan maupun pencegahan dengan memperbaiki kondisi kerja dan mewujudkan kerja layak demi kesehatan mental pekrja.

Begitu pula dengan dr. Jiemi Ardian yang menyatakan bahwa perusahaan atau pemberi kerja perlu memberikan pelatihan menangani untuk mengurangi stres bagi pekerja. Selain itu, perlu menciptakan sistem baru untuk menciptakan kerja sehat untuk mental.

Lebih lanjut, Raisya Maharani, Ketua Panitia Pelaksana WLB Fest 2019, juga menyatakan hal yang sama kepada Sehatmental.id saat ditanya mengenai harapannya terkait WLB Fest juga pekerja media dan kreatif. “Harapan kami adalah semakin banyak stakeholders dalam industri media dan kreatif (pekerja, pemberi kerja, perushaan, pemerintah) yang aware akan urgensi kesehatan mental dan bisa menciptakan kondisi, relasi, (dan) lingkungan kerja yang aman untuk kesehatan mental pekerja sesuai dengan Permenaker No.5/2018.”

“Karena, ketika pekerja sehat dan bahagia, tingkat produktivitas pun akan meningkat dan hal ini juga menguntungkan bagi perusahaan atau pemberi kerja.” tutup Raisya.

Desainwebku