Empty nest syndrome atau dalam bahasa Indonesia artinya sindrom kandang kosong adalah sindrom yang dialami oleh orangtua ketika anaknya meninggalkan rumah, bisa karena menikah, udah punya rumah sendiri atau merantau. Sering banget aku lihat terlebih kalau lagi pulang kampung, orangtua tinggal cuma berdua, anak-anaknya yang lain ada yang merantau, menikah, dan pulang setahun sekali atau dua kali.

Setelah bertahun-tahun hidup bersama anak-anak mereka, orangtua rentan mengalami empty nest syndrome ketika anak-anaknya mulai meninggalkan rumah. Jadi, bukan cuma anak aja yang sedih loh ketika harus pergi merantau atau beda rumah tinggal sama orangtua. Orangtua juga mengalami kesedihan itu. 

Menurut Makkar (2018) empty nest syndrome cenderung lebih rentan dialami ibu/bapak rumah tangga, serta orangtua yang sudah pensiun. Makkar (2018) juga mengatakan bahwa sindrom ini sebenarnya bukanlah diagnosis klinis melainkan fenomena psikologis dimana orangtua mengalami perasaan sedih dan kehilangan ketika anak-anak meninggalkan rumah. Orangtua yang mengalami empty nest syndrome biasanya juga akan mengalami penurunan kepuasan pernikahan. Namun berbeda dengan pernyataan itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Gorschoff, John & Helson (dalam Santrock, 2010) menemukan bahwa justru empty nest syndrome meningkatkan kepuasan pernikahan, dan peningkatan ini berhubungan dengan kualitas waktu yang dihabiskan dengan pasangan, bukan banyaknya waktu yang dihabiskan dengan pasangan. Mungkin karena dulu ketika masih ada anak-anak orangtua lebih fokus ke anak-anak dan jarang punya quality time sama pasangan kali ya, jadi ketika anak-anaknya meninggalkan rumah orangtua berasa cuma berdua sama seperti sebelum punya anak, jadi lebih banyak waktu untuk dihabiskan berdua.

Empty nest syndrome, meski terdengar sepele ternyata memiliki beberapa dampak ke orang yang mengalami nya loh, dampak-dampak tersebut misalnya :

1.         Depresi

            Depresi rentan dialami oleh orangtua karena mereka mulai merasa kesepian, terlebih ketika orangtua tidak terbiasa berpisah dari anaknya.

2.         Krisis Identitas

            Krisis identitas lebih rentan dialami oleh orangtua yang mengasosiasi kan diri mereka ke anak-anak mereka. Maksudnya gimana tuh? Pernah lihat nggak orang yang nama facebook­-nya bukan nama asli dia melainkan nama anaknya, misalnya diganti jadi ‘Bunda Aisyah’ karena nama anaknya Aisyah. Molly Edmons seorang penulis Discover Fit & Health (dalam Makkar 2018) mengatakan bahwa ibu yang membentuk identitas pribadinya sebagai seorang ‘ibu’ yang hingga akhir usia produktifnya ditemani seorang anak, lalu pada masa ketika anaknya pergi meninggalkan rumah, kejadian ini bisa sangat traumatis baginya. Hal inilah yang menyebabkan kenapa ibu rumah tangga cenderung rentan mengalami sindrom ini dibandingkan ibu pekerja, terlebih jika ia memiliki pandangan yang sangat tradisional dan value yang tinggi terhadap peran ibu.

3.         Konflik pernikahan

            Beberapa orangtua akan mengalami banyak konflik pernikahan setelah anaknya meninggalkan rumah, hal ini disebabkan karena mereka ingin menghilangkan rasa frustasi dan inferiority complex yang mereka alami. Apaan lagi tuh inferiority complex? Inferiority complex adalah perasaan bahwa dia lemah daripada orang lain.

4.         Merasa ditolak

            Selain mengalami konflik pernikahan, orangtua juga biasanya akan mengalami perasaan ditolak oleh anak mereka ketika pertama kali meninggalkan rumah, mereka merasa terisolasi dari dunia luar, perasaan ini akan lebih tinggi levelnya pada orangtua yang sangat dekat dengan orangtua nya.

5.         Merasa hidup tidak memiliki tujuan

            Orangtua mulai merasa hidunya tidak memiliki tujuan dan tidak berarti, kehilangan minat akan aktivitas rutin yang biasa mereka jalani.

            Lalu apa aja ya yang bisa kita lakukan untuk membantu orangtua kita menghadapi empty nest syndrome? Kamu bisa rutin menghubungi dan berkomunikasi dengan mereka melalui telpon/video call, kalau sedang sibuk bisa juga loh menghubungi mereka via chat atau SMS untuk sekadar menanyakan kabar mereka, dan kegiatan apa aja yang mereka lakukan di hari itu. Selain rutin tetap berkomunikasi dengan orangtua, kamu juga bisa menyuruh orangtua kamu mencari kesibukan lain supaya nggak merasa kesepian, misalnya ikutan kegiatan RT, pengajian, atau arisan sama teman-teman mereka yang lain. Kamu juga bisa loh mensupport mereka untuk melakukan hobinya, terlebih kalau selama sibuk mengurus anak-anak orangtua kalian jadi nggak ada waktu melakukan hobi itu. Misalnya dulu Ibu kalian rajin ikut zumba, lalu setelah punya anak jadi nggak punya waktu lagi ikutan zumba, kamu bisa mulai menawarkan apakah Ibu kalian mau ikut kelas zumba lagi. Dan terakhir, jangan lupa untuk rutin mengadakan kunjungan kerumah orangtua ya, misalnya sebulan sekali atau dua bulan sekali, supaya mereka tidak merasa kesepian atau ditolak sama anak-anaknya.

Penulis: Niken Mawar
Editor: Elga T

SUMBER

Makkar, Suresh.2018.Problem of Empty Nest Syndrome: An Analysis and Suggestions to Bridle it. Journal of Advanced Research in Psychology & Psychotherapy Volume 1, Issue 1&2 – 2018, Pg. No. 91-94

Santrock, John W. 2010. Life-span development 13th edition. The McGraw-Hill Companies : New York

Desainwebku