Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam hidupnya tidak dapat lepas dari kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Baumeister (1999), seorang psikolog sosial mengungkapkan, manusia memiliki motivasi untuk mencari, membentuk, mempertahankan ikatan sosial dengan orang lain atau suatu kelompok. Menurut Stillman, dkk (2009) memiliki hubungan sosial dengan sekelompok orang, membuat manusia merasa memiliki hidup yang lebih bermakna dan memfasilitasi keberlangsungan hidup daripada seseorang yang hidup sendiri berhubungan dengan alam saja. Seseorang dapat merasa ia tidak berarti apabila terkucilkan dari lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, menjaga hubungan sosial, menjadi bagian dari kelompok tertentu sangat penting untuk kelangsungan hidup seseorang.

Hubungan sosial yang terjaga dengan baik memiliki dampak yang baik bagi diri seseorang karena dapat memberikan dukungan emosional kepada seseorang ketika sedang dalam kondisi sulit. Banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidup, seperti putus hubungan dengan kekasih, kehilangan pekerjaan, sakit, dan lain-lain. Saat menghadapi berbagai kesulitan, seseorang biasanya akan cenderung mencari orang lain untuk memberi penguatan atas masalah yang sedang dihadapi. Dengan memiliki hubungan sosial yang baik dari orang-orang terdekat dapat melindungi seseorang dari efek negatif stres dan membantu seseorang untuk keluar dari stressor dengan cara yang dapat membuat individu berkembang.

Menurut Feeney dan Collins (2014), orang-orang terdekat dapat menyediakan rasa aman bagi seseorang, misalnya kenyamanan untuk menyampaikan rasa emosional, merasa perasaannya diterima, berempati atas masalah yang sedang ditanggung seseorang. Seseorang dapat menyampaikan berbagai keluhan emosi negatifnya (marahan, sedih, rasa duka, rasa bersalah, malu, tertekan, dan sebagainya) yang dapat meningkatkan emosi positif (merasa dicintai, tenang, aman, dan muncul kembali harapan) setelah bercerita. Mereka menjadi benteng untuk membantu menyadarkan sisi positif atau kelebihan orang tersebut untuk menghadapi masalahnya untuk menjadi seorang yang kuat. Mereka sebagai pemberi motivasi yang penting agar seseorang tetap kuat dan bangkit kembali dari masalahnya dengan cara yang positif. Kehadiran orang-orang terdekat dapat membantu seseorang menuju ke arah perubahan yang positif setelah selesai menghadapi masalah.

Sebagai contoh dari penjabaran manfaat menjaga hubungan sosial di atas, ketika seseorang baru saja kehilangan pekerjaan akan mencari sahabatnya untuk menceritakan masalahnya. Dengan adanya orang terdekat seseorang tidak merasa sendiri menanggung beban masalah. Ada orang lain yang menjadi pelampiasan emosi negatif dan mengerti perasaannya. Sahabat atau orang terdekat menyadarkan seseorang untuk melihat berbagai kelebihan dalam diri supaya tidak terus menerus melihat kelemahannya bahwa dirinya payah yang mengakibatkan rasa rendah diri. Menyadarkan seseorang layak mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan berbagai sifat dan kemampuan positif dari dalam dirinya daripada hanya menyalahkan diri sendiri atas kemampuan lain yang tidak dimiliki. Kata-kata motivasi yang diberikan oleh orang terdekat dapat membuat seseorang semangat untuk kembali bangkit dari masalahnya dan mulai mencari pekerjaan lagi. Mereka juga membantu mengarahkan pada perubahan positif, seperti memberi nasehat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Seidman (2014) dalam Feeney dan Collins (2014) mengungkapkan, dukungan orang terdekat membawa dampak positif secara langsung pada delapan aspek, di antaranya :

(a) Keadaan emosional menjadi lebih baik
(b) Membantu untuk mengevaluasi diri dan mempersepsi diri dengan cara yang positif
(c) Menilai suatu peristiwa dari berbagai sisi tidak hanya negatifnya saja, tetapi lebih ke arah sisi positif
(d) Memiliki motivasi untuk mencapai tujuan
(e) Kesesuaian respons saat menghadapi suatu masalah dengan mengetahui strategi koping yang membantu meringankan masalah dan belajar dari pengalaman
(f) Merasa dicintai, percaya, dan memiliki hubungan dekat dengan orang lain, (g) meningkatkan fungsi fisiologis sehingga badan tidak mudah sakit, dan
(h) Perilaku gaya hidup sehat

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara menjaga hubungan baik dengan seseorang. Menurut Robinson, dkk (2018) terdapat lima cara untuk menjaga hubungan pertemanan. Pertama, seseorang harus dapat memperlakukan temannya dengan baik, sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan, seperti dapat diandalkan, dipercaya, dan menyediakan waktu bagi teman yang sedang membutuhkan. Kedua, menjadi pendengar yang baik dengan mau mendengarkan ceritanya dan memberi dukungan untuknya, seperti yang kita inginkan hal seperti ini menjadi timbal balik. Ketiga, berikan ia ruang untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, jangan terlalu melekat karena semua orang butuh privasi. Keempat, biarkan persahabatan berkembang secara alami, hindari menetapkan banyak aturan dan berharap tinggi padanya karena dapat membuat konflik dalam hubungan pertemanan. Kelima, jadilah pemaaf karena tidak ada orang yang sempurna, temukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah bersama.

 

Referensi:

Baumeister, R. F., & Juola Exline, J. (1999). Virtue, personality, and social relations: Self‐control as the moral muscle. Journal of personality, 67(6), 1165-1194. doi: 10.1111/1467-6494.00086.

Feeney, B. C., & Collins, N. L. (2014). A new look at social support: A theoretical perspective on thriving through relationships. Personality and Social Psychology Bulletin. doi: 10.1177/1088868314544222.

Robinson, L., Boose, G., Smith, M.A., & Segal, J. (Oktober, 2018). Making good friends: Tips for meeting people and making meaningful connections. Diakses pada 4 April 2019 dari https://www.helpguide.org/articles/relationships-communication/making-good-friends.htm/.

Seidman, G. (2 September, 2014). How good relationships can make you stronger: A new review of social support research shows how relationships help us flourish. Diakses pada 4 April 2019 dari https://www.google.com/amp/s/www.psychologytoday.com/us/blog/close-encounters/201409/how-good-relationships-can-make-you-stronger%3famp.

Stillman, T. F., Baumeister, R. F., Lambert, N. M., Crescioni, A. W., DeWall, C. N., & Fincham, F. D. (2009). Alone and without purpose: Life loses meaning following social exclusion. Journal of experimental social psychology, 45(4), 686-694. doi:10.1016/j.jesp.2009.03.007.

Desainwebku