“Aku udah ngelakuin apapun buat kamu, kamu bisa nggak sih ngelakuin hal simpel untuk aku?”
“Kalo kamu gak nurutin aku, aku akan bongkar semua rahasia kamu”
“Kalo kamu sayang sama aku, harusnya kamu mau ngelakuin itu”

Apakah ungkapan-ungkapan di atas terdengar familiar di telingamu? Jika jawabannya adalah “ya”, kemungkinan besar kamu pernah menjadi korban dari emotional blackmail (pemerasan emosional). Apa itu emotional blackmail

Emotional blackmail adalah sebuah bentuk manipulasi yang bertujuan untuk mengancam, menghukum, serta mengendalikan korbannya agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang pelaku. Hal ini dapat terjadi ketika orang terdekat kita memanfaatkan kelemahan serta aib kita demi hal-hal yang mereka inginkan.

Pelaku emotional blackmail cenderung memiliki masalah yang terkait dengan self esteem. Mereka melakukan emotional blackmail demi memenuhi kebutuhannya untuk merasa berharga, dicintai, dan dibutuhkan, sebab mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut sendiri.

Umumnya, terdapat 3 aspek yang dimainkan oleh pelaku emotional blackmail untuk memanipulasi korbannya, yaitu fear, obligation, dan guilt yang disingkat menjadi FOG.

Fear

Aspek pertama adalah fear atau rasa takut. Pelaku akan mengeksploitasi rasa takut untuk memperdaya korbannya. Bentuk manipulasi ini biasanya dapat terlihat dengan jelas dalam bentuk ancaman dari pelaku terhadap korbannya.

Obligation

Aspek kedua adalah obligation. Pelaku akan mempertanyakan kewajiban korban serta menuntut hal-hal yang seharusnya dipenuhi oleh korban.

Guilt

Aspek ketiga adalah guilt atau rasa bersalah. Pelaku akan memposisikan dirinya sebagai korban atau pihak yang tersakiti, sehingga korban merasa layak untuk mendapatkan hukuman dari sang pelaku.

Apa Saja Ciri-ciri Emotional Blackmail?

Perlu diingat bahwa sejatinya emotional blackmail adalah sebuah bentuk manipulasi, maka sangat wajar bila kita kesulitan atau tidak mampu mendeteksinya. Mengetahui ciri-ciri emotional blackmail akan membantu kita atau orang-orang terdekat kita agar tidak menjadi korban dari orang-orang yang manipulatif.

Gaslighting

Salah satu ciri-ciri dari emotional blackmail adalah gaslighting. Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang membuat korbannya kehilangan rasa kepercayaan diri, mempertanyakan kemampuan diri, hingga mendistorsi realita sehingga korbannya tidak dapat benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Dalam kasus ini, pelaku emotional blackmail akan melakukan gaslighting hingga sang korban memiliki pandangan yang buruk akan dirinya sendiri. Hal ini memudahkan pelaku untuk membujuk sang korban melakukan hal-hal sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Self-punishment

Emotional blackmail tidak hanya berupa hukuman dari sang pelaku terhadap korbannya, pelaku juga memainkan kondisi psikologis korbannya melalui self-punishment atau menghukum dirinya sendiri. Self-punishment merupakan bentuk emotional blackmail yang ‘halus’ dimana pelaku akan memposisikan dirinya sebagai korban hingga membuat korbannya merasa bersalah. Pelaku tidak akan menghukum korban, tetapi akan menghukum dirinya sendiri bahkan berpura-pura menderita dan sakit. 

Contohnya adalah ketika seseorang berkorban untuk kita, namun di balik semua itu mereka hanya melakukan ‘investasi jangka panjang’. Suatu hari nanti mereka akan mengungkit dan meminta kita mengembalikan semua pengorbanan yang telah mereka berikan.

“Gajah dalam Ruangan”

Siapa yang tidak bisa melihat seekor gajah di dalam sebuah ruangan? Konsep “elephant in the room” atau “gajah di dalam ruangan” adalah metafora yang digunakan untuk merujuk pada hal besar (konflik) yang ada dalam pikiran namun tidak dinyatakan bahkan dihindari. Salah satu ciri-ciri emotional blackmail adalah ketika seseorang menolak untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Pada dasarnya, pelaku akan berusaha membuat korban merasa bersalah dengan cara bungkam dan membiarkan permasalahan menggantung begitu saja tanpa ada penyelesaian.

Over-protective

Salah satu ciri dari emotional blackmail yang sering muncul dalam hubungan adalah over-protective atau mengontrol secara berlebihan. Korban seringkali tidak sadar akan emotional blackmail yang satu ini, sebab pelaku menutupi dirinya dengan niat baik. Akan tetapi hal ini akan menimbulkan sebuah “emotional addiction” untuk mendominasi hingga memanipulasi korbannya untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan.

Penulis: Dhingga H.
Editor: Elga T.

Sumber:

Desainwebku