Selama ini, orang yang melakukan bunuh diri cenderung dipersepsikan sebagai orang yang sedang mengalami depresi. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab lebih dari 50% orang melakukan bunuh diri terjadi karena depresi mayor (Centers for Disease Control and Prevention Data & Statistics Fatal Injury Report, 2015). Namun, fakta menunjukkan bahwa orang yang bunuh diri tidak melulu karena depresi. Yuk, simak selengkapnya!

  1. Psikotik

Orang yang mengalami gejala psikotik seperti halusinasi, rentan untuk melakukan bunuh diri. Misalnya, orang yang mengalami halusinasi pendengaran mendapat bisikan yang menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri. Orang yang mengalami gejala psikotik seringkali tidak bisa membedakan apakah suara tersebut nyata atau tidak, sehingga mereka seringkali menuruti suara tersebut.

  1. Bentuk Protes

Berdasarkan data WHO, bunuh diri juga telah digunakan di India dan negara-negara Asia lainnya sebagai sarana protes sosial atas masalah politik, ekonomi atau budaya, terutama oleh mereka yang terpinggirkan dan tidak berdaya serta tidak memiliki cara lain untuk memprotes.

  1. Masalah Ekonomi

Masalah ekonomi seperti kemiskinan dapat mengarah pada tindakan bunuh diri. Hal tersebut dapat dimengerti karena berdasarkan pandangan tokoh psikologi, Maslow, kebutuhan fisiologis seperti makan serta kebutuhan akan rasa aman seperti tempat tinggal merupakan kebutuhan utama bagi individu agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Salah satu contoh kasus di Indonesia adalah pedagang yang bunuh diri karena lapaknya digusur.

  1. Budaya

Berdasarkan jurnal Suicide and Suicide Prevention in Asia yang diterbitkan WHO, budaya tertentu memiliki kontribusi terhadap tindakan bunuh diri. Salah satunya, budaya yang menuntut pentingnya mendapatkan hasil ujian baik serta budaya malu dilansir sebagai penyebab bunuh diri pada remaja di Sri Lanka, India, Jepang, dan Malaysia. Sehingga, tekanan sosial yang mereka dapatkan memicu mereka untuk melakukan bunuh diri.

  1. Penyakit Kronis

Di beberapa negara seperti Belgia, Kanada, Luxemburg, dan Belanda, seseorang yang memiliki harapan hidup kecil karena penyakit kronis dapat memilih untuk mengakhiri hidup mereka melalui prosedur euthanasia. Prosedur tersebut legal di beberapa negara dan dikenal dengan istilah assisted suicide.

  1. Kehilangan Sesuatu yang Signifikan

Kehilangan sesuatu yang dianggap sangat penting bagi individu seperti meninggalnya pasangan, sahabat, bahkan hewan peliharaan dapat mengarah pada tindakan bunuh diri. Tidak selalu sesuatu yang hidup, seseorang dapat melakukan bunuh diri ketika kehilangan pekerjaan, posisi sosial, atau setelah berakhirnya hubungan romantik dengan pasangan.

Setelah penjelasan tersebut, maka sudah jelas bahwa bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh individu dengan gejala depresi. Hal terpenting bagi kita adalah mengenali berbagai faktor pencetus bunuh diri, sehingga kita lebih peka terhadap kondisi sosial yang ada, serta kondisi orang-orang terdekat kita.

7. Kesepian

Kesepian dapat berpengaruh buruk kepada kesehatan mental maupun fisik, apalagi kesepian yang berkepanjangan. Kesepian bisa membuat kita kesulitan mengontrol diri kita sehingga terjebak ke dalam pikiran yang buruk.

Jika kamu atau orang yang kamu kenal ingin bunuh diri, segera hubungi tenaga profesional, seperti psikolog.

Penulis: Jannah Yuniar
Editor Elga Theresia

Referensi:

https://afsp.donordrive.com/index.cfm?fuseaction=cms.page&id=1226&eventGroupID=9AA19459-C880-0E26-61312B15147B2E0A&cmsContentSetID=D5C4DC12-C299-258B-B0B6FCF9EF015CE0

https://www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-in-world/201004/the-six-reasons-people-attempt-suicide

https://www.verywellmind.com/why-do-people-commit-suicide-1067515

https://www.who.int/mental_health/resources/suicide_prevention_asia_chapter2.pdf

http://arg.org/news/poverty-may-have-a-greater-effect-on-suicide-rates-than-unemployment-or-foreclosures/

https://www.mentalhealth.org.uk/sites/default/files/the_lonely_society_report.pdf

Desainwebku