Pernah gak sih, kalian baca berita tentang pembunuhan sadis, terus kalian langsung mikir, “Duh, kayaknya dia psikopat, deh!”. Hati-hati … itu salah satu asumsi yang kurang tepat, lho! Baru-baru ini, penembakan massal terjadi di El Paso, Amerika Serikat. Penembakan tersebut menyebabkan 24 orang meninggal dunia. Penembakan disebut sebagai penembakan massal ketika sedikitnya empat orang ditembak. Sepanjang tahun 2019, telah terjadi 292 penembakan massal di Amerika Serikat. Presiden Trump menganggap hal tersebut sebagai akibat dari gangguan jiwa, tetapi benarkah gangguan jiwa menjadi penyebabnya? Yuk, cek faktanya!

  1. Kemungkinannya kecil

Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa Orang Dengan Gangguan Jiwa memiliki kemungkinan yang kecil dibanding dengan populasi umum dalam melakukan penembakan maupun kekerasan massal. Penelitian pada tahun 2015 memperkirakan bahwa hanya 4% kematian yang diakibatkan senjata di Amerika Serikat berhubungan dengan masalah kesehatan mental. American Psychological Association juga mengeluarkan pernyataan bahwa tingkat penyakit mental di dunia kurang lebih sama, tapi negara lain tidak mengalami penembakan masal sebanyak Amerika Serikat.

  1. Siapapun bisa impulsif

Karakteristik penembak yang impulsif dan tampak marah merupakan karakteristik yang bisa dimiliki siapapun, terlepas dari ada atau tidaknya gangguan jiwa.

  1. Mengalami gejala gangguan jiwa tidak sama dengan memiliki gangguan jiwa

Sementara sebagian besar penembak massal memiliki riwayat yang menunjukkan gejala gangguan jiwa, hanya sekitar seperempatnya yang benar-benar memiliki diagnosis gangguan jiwa.

  1. Tidak sebahaya yang kalian kira, lho!

Hanya beberapa gejala gangguan jiwa yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk melakukan kekerasan, seperti kemarahan, impulsivitas, dan perasaan terisolasi.

  1. Faktor sosial berperan penting

Banyak faktor lain yang sangat terkait dengan penembakan, termasuk undang-undang senjata negara, riwayat kekerasan masa lalu penyerang, penyalahgunaan obat-obatan, misogyny (kebencian terhadap kaum wanita), dan rasisme.

  1. Akses legal senjata api

Akses legal terhadap senjata api dilansir sebagai faktor utama yang berkaitan dengan dilakukannya penembakan massal. Ketika warga mempunyai akses untuk memiliki senjata api, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk berbuat kekerasan. Ingat, tidak ada asap kalau tidak ada api ya, guys!

  1. Hati-hati stigma!

Menyalahkan gangguan jiwa dalam terjadinya penembakan massal merupakan sesuatu yang tidak terbukti kebenarannya dan hanya akan meningkatkan stigma terhadap gangguan jiwa. Hingga sekarang, berbagai stigma terhadap gangguan jiwa banyak terjadi, seperti mereka dipandang berbahaya. Hal ini hanya akan membuat mereka semakin terdiskriminasi dan terisolasi.

Walaupun penembakan massal ini cuma terjadi di Amerika, ada baiknya kita mengambil pelajaran dari hal tersebut, ya guys! Salah satunya, kita harus berhenti menstigma pengidap gangguan jiwa sebagai pelaku kekerasan. Dengan begitu, kita membangun iklim psikologis yang ramah bagi para penyandang disabilitas mental, lho!

Penulis: Jannah Yuniar
Editor: Elga Theresia

Referensi:

https://www.pbs.org/newshour/science/why-mental-illness-cant-predict-mass-shootings

https://time.com/5644147/mass-shootings-mental-health/

Desainwebku