Sedang dalam kondisi emosi negatif itu lumrah. Kita semua pernah pada kondisi buruk. Ditinggal kekasih, cinta ditolak, gagal masuk perguruan tinggi idaman, nilai ujian buruk, dan lain-lain. Banyak hal kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sehingga kekecewaan, marah, tidak percaya diri, bahkan putus asa sering menghinggapi kita. Sebetulnya tidak masalah, banyak orang pernah mengalaminya. Yang lebih pahitnya, kemudian kita seolah-olah diminta untuk tetap semangat, tidak menyerah dan terus berusaha oleh lingkungan sekitar. Pada kondisi seperti itu, saya pernah berpura-pura biasa saja.

Padahal rasanya dunia sedang runtuh dan saya berpura-pura baik-baik saja. Menyedihkan bukan? Berpura-pura sedang dalam kondisi baik itu tidak sehat. Sedih, kecewa, marah padahal bentuk emosi yang lumrah. Namun karena lingkungan menghendaki lain, saya bahkan kita semua memilih berpura-bura dalam kondisi baik.

Menyadari hal ini sebagai kekeliruan yang jamak dipraktikan adalah satu langkah maju. Untuk diri kita dan lingkungan sekitar soal kesehatan mental yang lebih baik.  Urban Dictionary menyebut kondisi sosial seperti itu dengan Toxic Positivity. Penelitian menarik dari hal ini dilakukan oleh Susan David penulis buku Emotional Agility dan psikolog dari Harvard Medical School. Susan menemukan bahwa sepertiga partisipannya menghakimi emosi negatif dalam dirinya.

Kebanyakan dari sepertiga partisipan tersebut menyebutkan bahwa hidup harus dijalani dengan positf. Artinya tidak patah arang dan terus berusaha. Namun juga menihilkan kekecewaan, marah, sedih yang dialami. Lantaran menurut partisipan, bentuk emosi negatif tidak sesuai dengan moral hidup yang berlaku.

Bukan hanya penyangkalan atas bentuk emosi negatif, ada juga beberapa hal lainnya yang tidak baik bagi kesehatan mental. Dilansir dari positivelypresent.com—sebuah laman yang menyediakan informasi bagaimana hidup postive dengan baik tanpa toxic—menyebutkan bahwa beberapa hal akibat toxic positivity, yaitu:

1. Kebingungan dengan perasaan sendiri

Lantaran terobsesi dengan gaya hidup positive, bisa mengalihkan realitas yang sedang dihadapi. Hal ini tentu bukan hal yang baik, ketika realitas yang sedang kita hadapi dinihilkan oleh obsesi kita sendiri. Akibatnya kita kebingungan dengan diri kita sendiri. Terutama perasaan yang sedang kita hadapi. Konsekuensinya kita jadi tidak bisa menentukan solusi apa yang tepat untuk diri kita sendiri.

2. Tidak lagi mengenal bagaimana hidupnya sendiri

Ketika sudah terlalu bingung dengan perasaan sendiri, kemudian tidak bisa menemukaan apa yang sedang dirasakan. Maka yang terjadi adalah tidak mengenal kehidupannya sendiri. Mereka selalu menampik emosi negativ dalam dirinya. Penyangkalannya akan emosi negativ ini menjauhkannya dari realitas yang dihadapi. Toxic positively membawa kita pada kesulitan menuemukan apa yang benar-benar diinginkan dari hidup hingga bagaimana mewujudkannya dengan tidak menyiksa diri.

3. Kesulitan dalam berekspresi

Toxic positively membawa kesulitan untuk mengekspresikan semua perasaan yang ada. Seolah-olah harus selalu terlihat baik-baik saja. Padahal kita ingin memperlihatkan bagaimana perasaan kita saat ini. Bersembunyi di balik kalimat positif yang tersugesti di dalam diri, justru menjadi bumerang bagi kita suatu hari nanti. Meski tidak mudah, tapi belajar mengekspresikan perasaan akan membuat kita jauh lebih damai.

4. Kesulitan menemukan solusi

Setiap permasalahan membutuhkan solusi. Bisa jadi sebenarnya kita sudah menemukan solusi, tetapi kita kadang juga membutuhkan orang yang bisa mendengarkan keluh kesah. Namun saat mereka hanya menyuruh untuk tidak berpikiran buruk dan lebih baik memikirkan hal-hal baik saja. Maka di saat itu pula membawa kita semakin jauh untuk menemukan solusi.

Desainwebku