Anak broken-home, merupakan label yang tentu tidak diharapkan oleh semua orang. Tapi pada kenyataannya tidak jarang kita mendengar istilah tersebut atau bahkan mungkin kita sendiri yang mendapatkan labeling seperti itu. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan broken-home? Broken-home adalah istilah untuk keluarga yang tidak utuh. Tidak utuh disini tidak hanya ketika orang tua bercerai atau tidak tinggal bersama, tetapi ketika orang tua tidak dapat memberikan hak-hak anak baik fisik, psikologis, ekonomi dan sosial sehingga anak merasa tidak diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, maka keluarga tersebut dapat disebut keluarga tidak utuh atau broken-home.

Sering kita mendengar stereotype bahwa anak broken-home adalah anak nakal, pembuat masalah bahkan dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah. Padahal, banyak juga anak broken-home yang kemudian menjadi orang yang sukses seperti Reza Rahadian, Eva Celia, Justin Bieber hingga mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka dapat sukses dalam bidang masing-masing meskipun berasal dari keluarga broken-home. Kesuksesan mereka tentu tidak lepas dari kemampuan mereka untuk menghadapi dan beradaptasi dengan masalah dalam keluarganya. Berikut 5 faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka menghadapi keadaan broken-home, yaitu :

  1. Menerima Keadaan

Mereka dapat menerima bahwa memang keadaan keluarga mereka berbeda dengan gambaran keluarga harmonis pada umumnya namun mereka dapat menerima dan memahami bahwa hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.

  1. Religiusitas

Ketika melihat keluarga lain dapat hidup harmonis tentu akan membuat iri dan beranggapan bahwa Tuhan bersikap tidak adil. Namun, mereka harus percaya bahwa Tuhan tau yang terbaik untuk kita dan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umat-Nya.

  1. Kemampuan berpikir (kecerdasan/intelegensi)

Kemampuan mereka memahami dan menganalisis apa yang terjadi pada keluarga mereka dapat membantu untuk menjadi lebih terbuka menerima saran dan nasihat dari lingkungan sekitar serta memahami apa yang harus dilakukan selanjutnya untuk menjadi individu yang lebih baik lagi.

  1. Komunikasi dan Interaksi

Kepedulian dan rasa empati terhadap sekitar juga akan membantu dalam menghadapi keadaan broken-home. Meskipun orang tua telah bercerai bukan berarti mereka tidak peduli pada keluarga lagi, dengan tetap berhubungan baik dan saling memahami antar anggota keluarga tentu akan meringankan permasalahan yang dihadapi. Tidak ada salahnya loh untuk tetap curhat dengan orang tua, teman bahkan jika dibutuhkan bisa datang ke psikolog.

  1. Dukungan sosial

Dengan adanya dukungan dan komunikasi yang baik dari anggota keluarga, tetangga, teman dan orang-orang disekitar lainnya tentu juga akan meringankan perasaan-perasaan sedih hingga marah karena menjadi anak broken-home.

Perpisahan atau ketidak harmonisan orang tua tentu akan memberikan dampak negatif pada anak, namun hal tersebut juga tergantung pada bagaimana lingkungan sekitar dapat membantu mereka menghadapi dan beradaptasi dengan keadaan keluarga yang tidak utuh. Oleh karena itu jika kita mengetahui orang-orang terdekat kita mengalami broken-home maka tidak ada salahnya kita hadir untuk mereka sebagai teman curhat ataupun memberi semangat agar mereka tidak merasa sendiri. Meskipun anak broken-home bukan berarti masa depan mereka akan broken.

https://www.popbela.com/relationship/single/shintya-maharani/anak-broken-home-yang-berprestasi/full

https://pijarpsikologi.org/memahami-kami-yang-berasal-dari-broken-home/

Widyastuti, T. (2017). Resilience Of A Child From Broken-Home Family: A Phenomenology Study. International E-Journal of Advances in Social Sciences , III(9).

Desainwebku